Estuaria

Malam memudar setelah bulan merekatkan butiran cahaya
menusuk iris dengan karat aksara: tak jelas apakah gangsa
magenta atau malah lila, huruf-huruf itu tetap tak terbaca
langit masih akan kelabu dan kau tetap mengelabuiku.

Kita akan pulang. Aku menyeretmu seperti kepiting uca
menyeret hidupnya: sendiri dan terjaga. Di keluasan
pasir pesisir yang asing, mengendap dan menyelinap
menghindari sepasang mata yang membakar sunyiku.
Ia waktu: pokok-pokok hidup yang hangus itu.

Aku menyeret sejumlah kata-kata dalam karapas
melalui jaring kegilaan yang tak bisa kuterabas
tapi kau terus menuju ke laut, tak membiarkan
kata-kata pasang-surut dan terlepas.

"Tak ada yang tetap di estuari,
selain cinta dan ketabahan abadi."

(2016)

2 comments:

  1. wih pada pinter bikin puisi.
    keren nih kata-katanya.
    keknya cuma gue di planet ini dalam pelajaran bahasa indonesia :-/

    ReplyDelete