Surat-surat yang Tak Peduli Kapan Sampai

Apakah kau telah menerima surat-suratku? Penantian menerbangkanku seperti sehelai daun ke lembah yang jauh, ombak yang menggulung bahasa ke dalam pengertian-pengertian yang tak dipahami karang dan tebing. Penantian meloloskanku dari kepungan waktu, dari jarum jam yang menipu hari-hari dengan sihir sejuk mata air, ketulusan yang membaur dalam cinta dan kegilaan, membuka ruang dan mengisi, berulang kali. Apakah kau akan membalas surat-suratku? Aku tidak memiliki kesabaran yang sunyi seperti burung-burung, bunga-bunga, dan patung-patung, tapi kau bisa memiliki seluruh penantian yang menyita hari-hariku sebagai taman bermain dan peraduanmu. Kau bisa menuding dan menyalahkan negara tanpa takut tak punya cukup waktu karena kau memiliki seluruh rasa bersalahku, berhak atas seluruh selamanya yang diyakini orang-orang percaya. Tapi jika suatu saat kau membalas surat-suratku, cintaku masih tetap seorang anak kecil yang terbangun pada dini hari. Gelisah mencari cahaya, mencari rahim ibunya, semesta yang tak membuatnya bertanya-tanya tentang hari depan dan penghakiman. Pada saat itu, kita tak lagi peduli tata bahasa. Karena kita tak menata apa pun selain hati kita sendiri, selain cinta dan keinginan menyendiri.

Jakarta, 2015

No comments:

Post a Comment