Artificial Paradise

Puisi ini seperti lembah
yang melihat semuanya
dari jauh.

Ia tahu perubahan bentuk awan,
gemerisik daun, retakan tebing batu,
bahkan hafal waktu kabut
turun untuk menciumi
sepasang kelopak matamu,
hanya untuk memastikan
hadirnya musim semi
dalam tidurmu.

Tetapi bagaimana
puisi ini akan lestari
jika hawa panas
dalam diriku
tak bisa dibendung lagi
dan kemarahanmu
jadi semak berduri?

Akan kah rumpun bunga
sebutlah Gandasuli
Lembayung, juga Manila
mengembalikan wangi waktu,
menjadikan ingatan semerbak
kendati tubuh bukan lagi
belantara yang ditumbuhi
hasrat purbani?

Puisi ini seperti lembah,
siang-malam
mencemasimu dari jauh,
mengawasimu dari
kemungkinan terjatuh,
hanya saja
kata-katanya sudah
jadi padang sabana,
murung memikirkan
perasaan-perasaan halus
yang enggan memetiknya.

No comments:

Post a Comment