Kelengangan Jakarta dan Kamu Sayang Aku


Kali ini saya akan membahas perihal mengubah kebiasaan. (lho, Mas! mbok ya prolog dulu, cerita kabarnya dulu, bercanda-bercanda dulu, atau foreplay dul- hus!)

Ndak ah. Lha saya kan mau membahas soal mengubah kebiasaan, ya saya pun harus konsisten dengan membuat artikel yang di luar kebiasaan: langsung membahas inti. (halah gayamu, dul!)

Baik, cukup yang main-main. Kali ini saya mau berbagi pengalaman perihal mengubah kebiasaan. Maka pertanyaannya yang timbul adalah: memangnya apa yang salah dengan kebiasaan? 

Dalam banyak kasus, kebiasaan tidaklah buruk, sesuatu hal yang ditekuni dan menjadi kebiasaan hingga punya nilai manfaat membuat seseorang dibutuhkan banyak orang, berbagai pekerjaan dan tanggung jawab pun menghampiri hingga orang yang bersangkutan dilabeli “ ahli” atau “pakar”, meski saya sendiri yakin tak ada orang yang tulus menekuni suatu bidang yang mau dilabeli pakar kecuali mengidap megalomania. Tentu ini hal bagus, tapi bagaimana jika kebiasaan itu cenderung buruk, atau yang lebih buruk, kita tak sadar kebiasaan buruk kita itu buruk? Saya akan mulai dari menceritakan pengalaman saya.

Sebelum melangkah lebih jauh dan artikel ini kian ngalor-ngidul tak jelas juntrungannya, ijinkan saya mengawalinya dengan beberapa penjelasan terlebih dulu:
1. Setahun belakangan saya baru saja pindah dari Solo ke kota yang dibangun dari hiruk-pikuk: Jakarta.
2. Meski  menurut beberapa karib saya tergolong open-minded, sejatinya saya jenis orang yang konvensional dalam cara pandang dan cara pikir jika merujuk ke beberapa kasus, kalau tak bisa dibilang kolot.

Dua poin ini seharusnya cukup menjelaskan cara orang kampung seperti saya memandang Jakarta. Jadi jangan heran jika yang saya alami sama seperti orang kampung lainnya yang 'gemetar' menghadapi Jakarta, mirip seperti anak ayam kehilangan induknya. Prasangka buruk saya terus mengatakan bahwa Jakarta bukan tempat saya, selalu seperti itu setiap hari. Alih-alih mau beradaptasi, saya yang naturnya sinis menjadi kian sinis setelah hijrah ke Jakarta. Sering saya mengutuk polusi, macet, perbedaan karakter orang-orangnya, urusan makanan, dan remeh-temen lainnya, tapi anehnya saya terus menjalaninya. Seperti Sisifus, ya?

Kegagapan yang saya alami jelas karena Jakarta bukanlah kota kecil seperti Solo, tapi lama-kelamaan saya berpikir: "masakah saya semudah itu menyerah?" 

Lalu saya teringat ungkapan “ala bisa karena biasa”. Jika dinegasikan, ungkapannya jadi: “tidak bisa karena tidak biasa”. Dari situ saya menarik simpulan sederhana bahwa cara mengubah kebiasaan adalah membiasakan ketidakbiasaan. Simpulan ini jadi sebuah fungsi—seperti dalam sebuah operasi matematikuntuk mengakhiri tiap kegagapan dan ketidakmauan saya beradaptasi dengan Jakarta. 

Adjie Silarus dalam buku terbarunya, Sadar Penuh Hadir Utuh (Transmedia, 2015), pun memberikan 6 langkah membentuk kebiasaan baru, yaitu: 
1. melakukan kegiatan yang bukan kebiasaan kita tapi bisa dengan mudah dilakukan
2. mencari hal yang bisa memicu kegiatan baru
3. buat komitmen
4. tetapkan pengingat
5. fokus dengan kebiasaan baru
6. laporkan setiap hari
Dan memang benar, yang saya lakukan untuk menghadapi Jakarta pun senada. Daripada terus-menerus mengutuk yang bisa berakibat lambannya proses adaptasi, saya mulai mengubah segalanya, mengubah sudut pandang, mengubah cara pikir hingga nantinya berujung pada mengubah kebiasaan. Mengapa harus mengubah cara pikir lebih dulu? sebab banyak sekali sesat pikir yang kadang menghambat proses adaptasi seseorang. Seperti halnya, istilah “keluar dari zona nyaman”. Seolah-olah zona nyaman itu ada, padahal yang ada adalah zona cari aman. 





Saya teringat, di hari-hari awal di Jakarta yang penuh kutuk itu, saya terus mencari tahu, mengamati, mencocokkan cara pikir dengan beberapa orang yang berlatar belakang dari kampung yang sama, lalu mulai bertanya-tanya: jangan-jangan mereka semua memang salah dan tak mengerti apa-apa atau jangan-jangan saya yang salah dan belum tahu apa-apa? Jawabannya sangat mudah sekali ditebak: saya yang salah dan tak tahu apa-apa.

 Dalam suatu diskusi di 'klub kurang piknik' yang membahas kurangnya tempat piknik di Jakarta, seorang kawan melabeli Jakarta sebagai "laboratorium perilaku terbesar", lalu kawan lain merumuskan teori bahwa cara termudah 'piknik' di Jakarta adalah dengan mengamati tingkah laku orang-orangnya. Saya sependapat. Tak jarang jika dilanda penat, saya mampir ke warung kopi, ke pos-pos satpam, atau bahkan ke halte bus, hanya untuk mengamati tingkah laku orang-orangnya. Ada yang cemas menunggu dijemput kekasihnya, ada yang raut wajahnya penuh curiga kepada orang-orang di sekitarnya, ada yang tak segan mengungkapkan cintanya ke orang yang dikasihi, ada yang gusar mengutuk kemacetan yang dibuat sendiri, dan masih banyak lagi. Mengamati orang-orang tersebut, di jam-jam padat, biasanya jam pulang kerja, justru membuat saya merasa bahwa Jakarta sesungguhnya lengang sekali dan tempat piknik yang mengasyikkan, saya pun menyebutnya sebagai 'tamasya batin'. Agak pretensius memang, tapi tak apalah. Namanya juga anak muda. (embuh)

Ternyata Jakarta jauh lebih menyenangkan dari yang saya bayangkan asalkan kita tahu cara mengakalinya. Saya percaya, kapasitas akal manusia jauh lebih besar dari semua ketakutannya, jauh lebih berdaya dari semua rasa khawatirnya. Alih-alih terus mengutuki diri, saya mulai mulai melakukan hal-hal di luar kebiasaan saya. Saya menempuh jalan yang tidak biasa saya lewati, mencoba berbagai jenis moda transportasi umum lalu tersesat, mulai berolahraga meski hanya seminggu lalu berhenti, mencoba macam-macam makanan baru lalu mencret, membaca buku yang bukan kegemaran saya tapi kok nangis, mendengar lagu band lokal yang ndak bagus tapi kok ya bisa ngikutin nyanyinya, dan sebagainya. Tapi setidaknya dari berbagai kesialan itu saya mencoba hal baru dan itulah yang membuat saya mulai menyukai Jakarta. 

Yang saya jalani seperti poin no.1 dan 2 di buku Sadar Penuh Hadir Utuh. Jika hal-hal tersebut dijalani dengan konsisten, maka poin no 3-6 sejatinya sudah tidak diperlukan, tapi apabila kita berpotensi melanggarnya, ada baiknya mulai mencatat atau mencari teman yang bisa dimintai tolong mengingatkan kebiasaan-kebiasaan baru kita, atau meminjam istilah Adjie Silarus: "kelompok penagih komitmen".

Buku ini—kalau saya tidak salah—adalah buku kedua Adjie. Buku yang cukup representatif untuk menghadapi 'kebisingan' zaman. Berkali-kali Adjie menekankan pentingnya diam, menunda, mengubah, melepas. Sekelompok kata yang makin asing kita dengar dan temui di zaman serba tergesa ini, bukan? Bagi yang penasaran dengan buku ini boleh bersabar, sebab buku baru akan terbit 24 Maret 2015, tapi jika anda penasaran, anda bisa mengikuti pre-order nya di sini. Karena kebetulan Adjie sering membuka kelas meditasi, ia pun menyiapkan 20 tiket untuk mengikuti kelas Sadar Penuh-nya di sini


Sebuah pepatah Jawa, “witing tresno jalaran soko kulino” sepertinya cukup menjelaskan apa yang saya rasakan pada kota Jakarta. Bagi pembaca pria yang tidak tahu artinya, silakan googling, bagi pembaca perempuan, nanti belajar bahasa Jawa sama Mas, mau kan, Dek? Tapi begitulah, perlahan saya mulai mencintai hiruk-pikuk, bising, dan ketergesaan kota ini. 

Maka merujuk kembali pada judul artikel ini, kelengangan Jakarta masih mungkin didapati asalkan kita tahu cara memperolehnya, begitu juga dengan peluang kamu menyayangiku, masih mungkin kok. Hanya saja, karena kamu kan sudah terbiasa ndak sayang aku, kamu harus mulai mengubah kebiasaan.

Pelan-pelan saja, ndak perlu tergesa, kamu bukan Jakarta.


— Jakarta, 2015

No comments:

Post a Comment