Kembar Mayang

Sejak keutamaan batang semu pisang
tegak lurus dengan tempolong, sejak itulah
kesadaran menjadi gerbang jalan masuk kita.

Mataku terarah lurus padamu, pada rambut
yang digelung memanjang ke buhul petuah leluhur.
Sementara diri berpayah menatah lamunan
yang menyaru dengan anyaman bayang-bayang,
kau telah berhias melati, kantil dan pudak laksana
cinta yang pasrah, hingga suara kedasih harus
dibungkus Bapak dan Ibu dengan sindur batinku.

Sejak Dewandaru lesap bersama ruh dalam tubuhku
kitab-kitab tua merontokkan sisik seluruh aksara
hingga tersisa putih tulang wahyu pengayoman,
sebab kau, Sang Kalpandaru, akan berpendar
ke seisi ruangan, bahkan meja makan, mengukus
dan menghidangkan doa dalam sepinggan langgengan.

sebelum kita menyadari perayaan ini kan menguntai 
dan mengintai kita dengan kelopak padma dan mantra.

2014

No comments:

Post a Comment