Jalan Simpang Musisi dan Munsyi

buat Joseph Sudiro



Tanpa jejak-jejak yang kabur dan terkubur,
ingatan yang baik membawa masa muda pulang
dari pengelanaan pukau, pengenalan engkau.

Sebab tangan-tangan iman telah menabur 
butir-butir bahasa dan menebarkannya di 
empat belas perhentian via dolorosa.

Kita rayakan dengan peras buah-kata 
dan menyaringnya dalam tempayan.
Kita teguk sarinya, kita reguk wangi
rempah dari petuah pelepah serainya.

Kau jagai sejumlah sanak dalam kemah,
jadi nyala dian, jagai dari kabut kemudian.
Kau salin petitah dari tabut, membawanya
seperti hewan kurban untuk persembahan.

Andai cinta tak mengenal perih dendam
tak sepelik liris lirik pada gurindam, 
ia pasti hanya tertarik rahasia malam.

Andaikan ada kata yang tak berumah
dan sejumlah nada yang butuh tetirah,
mantra padri akan melayarkan palari
sekali lagi ke tempat sunyi sembunyi.

Maka sebelum waktu lata, usia nganga 
dan penyesalan menjulur ke sorga,
mari buat mazmur seratus lima puluh satu,

dengan regang dawai nyawa dan uban ibunda.


2014

No comments:

Post a Comment