Padahal Aku Ingin Memelukmu

Padahal aku ingin memelukmu, tapi kini aku
tak bisa melakukannya dan mulai berusaha
membayangkan seandainya aku memelukmu.
Toh aku sudah lupa wangi asli tubuhmu.
Aroma kulitmu lapuk ditimbun lima lapisan
kimiawi. Ia menimbun apa saja termasuk
percakapan kita. Kecantikanmu seperti bahasa
baru yang tak kupahami meski kubaca dengan
mata menyala. Sebab sorot mataku hilang daya
seperti salju terakhir di bulu lembut serigala.
Mendekam. Mendekat. Mendekap. Menekan.
Mendekat. Mendekap. Menerkam. Diterkam.
Aku lupa teknik terkaman pemangsa itu meski
hidup hanya perkara memangsa dan dimangsa.
Sebab hari ini aku mungkin runtuh karena waktu,
tapi siapa tahu esok ingatan menyusun tubuhku.

Padahal aku ingin memelukmu, tapi suatu pagi
aku terbangun dengan perasaan embun kota.
Tampak sebentar lalu hilang dua bentar lagi.
Jauh di bawah tubuhku pabrik-pabrik mengalirkan
limbah langsung ke ususku. Membuatku mual
hingga merapal sejumlah pemberkatan doa
dari kematian leluhurku agar menyertaiku.
Setiap malam seorang pertapa melewati tikungan
gelap di sana hanya untuk menguji ritma tarikan
napasnya sebab bau belerang di mana-mana.
Kesedihan di mana-mana.Yang ia hirup tak sesuai
dengan yang dihembuskan hidup. Maka berikan aku
kata yang tak bisa melukai dirinya sendiri!
Hingga cinta membangunkan sebuah gergaji mesin
dalam perutku. Memotong lambung, memotong mesin
ketik macet, memotong lemari dan hal-hal yang rahasia.
Padahal aku ingin memelukmu, tapi bau belerang
begitu kuat. seperti trauma setengah penduduk jagat.


Jakarta, 2014

No comments:

Post a Comment