Kesedihanmu Melahirkanku

Kesedihanmu melahirkanku. Di lain waktu membunuhku.
Ia rahim sekaligus liang lahat, lorong antara lupa dan ingat.

Jika hari rembang petang, aku amati orang sembahyang.
Kadang timbul pikirkan ingin bergabung, tapi tubuh ini
tersusun dari murung hingga tak tahu cara berkabung.

Aku tak ingin melihat kesedihan mempermainkanmu,
tetapi hal ini membuatnya kian mempermainkanku.

Kesedihan mungkin seperti sebuah wahyu temurun,
ia pun menanti digenapkan, entah oleh mautmu
atau mautku, hari depan kita bergantung maunya.

Kuhitung kecup dan pelukmu yang berkati tubuhku,
agar ada bekal jika hidup yang digariskan kemudian
tak kekal, aku tak ingin kematian menakut-nakutiku.

kuasanya tak boleh lebih besar dari ketiadaanmu. 

Jakarta, 2014

No comments:

Post a Comment