Yang Tak Terkatakan di Braga

Malam demam tinggi
Awan berkali-kali muntah.
Angin menggerutu bagai ingatan yang sangsi.
Sepasang kedasih terbang tak tentu arah.
Tergelak menyaksikan dua kekasih berdarah.


Mata kita sekali lagi saling bersirobok.
Di pedatiweg, pada serambi Savoy Homann.
Tatapanmu kuyu, bukan lagi mata belati.
bukan lagi gegar yang buatku tak segan mati.

Dari jauh terdengar, denting-denting gemetar.
Aku duga suara calung, kau ngotot itu angklung.
Gumamkan cinta yang sempat menetap di relung.

Kau bersilang tangan, diam mematung
seperti daun-daun menyirip nibung.
Aku menatap arloji pemberian ibu.
Karat jarumnya menimang-nimang waktu.
Seolah-olah ingin menyegerakan hari-hari kelu.

"Terpenting, kau tak buatku terpelanting", katamu.

Tampaknya memang ada isyarat yang tak cukup kuat.
Tampaknya memang ada gelagat yang tak disetujui jagat.

Kau berlalu. Aku berlalu.

Lukisan-lukisan dari tangan tak dikenal mencibir kami
tanpa malu, tanpa tahu, cinta tak harus manis melulu.

No comments:

Post a Comment