Sebuah Pengantar Membaca Perempuan

Ini pengantar yang aneh. Aneh karena sesungguhnya pengantar ini tak mengacu kepada apa, tak mengarahkan agar kau menjadi siapa, dan tak memandu dengan bagaimana. Tetapi pengantar jenis ini kadang perlu untuk mengingatkan pada dasarnya setiap orang suka dipandu dan diarahkan meski tahu tak ada jalan di hadapannya, tetapi setiap orang menyukai perasaan seolah-olah ada jalan keluar itu, sebab kadangkala kebuntuan baru juga  bisa jadi jalan keluar bagi kebuntuan lama.

Setidaknya yang menggembirakan dari menemu kebuntuan adalah setiap orang punya arah meski belum punya jalan. Tak seperti rindu yang meski punya jalur ia kadang tak punya arah, yang berkebalikan dengan kenangan, ia tak punya lintasan pasti tapi pasti melintas. 

Tetapi kau harus berjanji tak akan terlalu khidmat membaca pengantar ini. Kata-kata yang kini menatap sepasang matamu begitu jahil dan senang mengajak bermain. Kata-kata jenis ini bandel dan tak menuruti siapa pun kecuali perintah dari yang tak terkatakan. Sampai di sini jika kau belum juga menemukan apa yang kau yakini akan menuntunmu, sebaiknya tanggalkan keyakinanmu dahulu.

Baiklah, saya bocorkan sedikit: sesungguhnya seribu buku pun tak akan cukup sebagai pengantar membaca perempuan. Sebab buku memberi pengetahuan dari yang terbaca, tetapi perempuan memberi pengetahuan dari yang tak terbaca. Mungkin ini pengantarnya, mungkin juga ini pengantar yang tak mengantarmu ke mana-mana,

kecuali kau betah berdiam dan menunggu ia menagih ciuman-ciumanmu.

Solo, 2014

No comments:

Post a Comment