Menjembatani Kita


Sungguh, sejak mula kita bersitatap, tubuhku seperti sungai yang tak bisa membendung arus yang purba dalam dirinya. Sungai dalam diriku seperti mengenali arus jantungmu yang ricik, ia seakan meluruhkan segala pikiran-pikiranku yang picik. Menangkapmu seperti membebaskan ketakutan-ketakutanku. Sedangkan kau seperti anak kijang yang mulai tahu letak mata air.


Ini lah musim ladang tak berpanen dan tuaian tak bertuan, tak lama lagi rahasia demi rahasia berjatuhan. Tetapi sepasang matamu seperti daun jendela surga, darinya aku melihat sesorot cahaya masih dapat menembus kamar-kamar gelap dalam tubuhku: cermin dari cerminmu. 

Sungguh, jemari kita yang bertautan seperti jembatan hari depan, ketika aku membayangkan apa rasanya duduk denganmu di tepinya, menanti maut, arus deras sungai itu menerpa kita, tanpa memikirkan sepasang tubuh yang dihempas-hempas takdir ini akan bermuara ke mana.

Jakarta, 2014

No comments:

Post a Comment