Melankolia III: Buku Asing

Tidakkah lucu melihatku kepayahan berenang
dalam dingin lautan maksud centang-perenang?

Aku menerka inginmu bak seorang penerjemah
kau himpunan bahasa diam yang tak terjamah.
O, tubuh yang di tiap lekuk penuh catatan kaki.

Ada juga yang lebih dulu menebalkan inginmu.
Dengan warna lain, debar yang mudah dicerna
jauh sebelum aku melihat kesalahan cetak itu.

Ada kalanya timbul pikiran ingin mengabaikan.

Tetapi pikiranku tak kuasa meniadakan kamu
sebab begitu lama ia puasa dari keberadaanmu.
Pikiran yang selalu menahankan jatuh airmata
sebab takut dianggap menuhankan luka-luka.


No comments:

Post a Comment