Melankolia II: Lumbung

Tak ada aroma mewah terhidang
kecaplah nikmat sepiring hilang.
Lumbung-lumbung petani kosong
panen tahunan tak lagi melimpah.

Kita hanya menelan kata-kata
sendiri, seperti api paling duri.
Lambung-lambung kita gosong
tenggorokan lepuh, melumpuh.
Sepanjang hari mengunyah enyah
hingga padam di sudut geraham.

Sialnya aku terlanjur memercayai
engkau yang piawai memerdayai.
Sedu sedan tak pernah sepadan
mual tak mungkin terhindarkan.

Aku terpaksa memuntahkan puisi.
Karena tak mampu mementahkan
kecewa, yang teramat mengisi.


No comments:

Post a Comment