Melankolia I: Lampu Jalan

Seperti sudah kau siapkan sebelumnya
setibanya aku di kampung halaman
lampu-lampu jalan menyambutku.

Terang menelaah pantulan bayanganku
gelap yang sedari dulu kau cintai.
Sosok yang membenci dirinya sendiri
sebab ia tak bisa ikut ambil bagian
ketika kita menanggalkan pakaian.

Cahaya mengupas segala yang samar.
Engkau tertawa dalam senyum sumur
begitu manis dan dalam tak terukur.

Bibir kita seperti dua tangan saling hadap
begitu dekat, tetapi enggan saling suap.
Kita hanya terduduk, dibelenggu senyap
karena bahagia masing-masing tak siap.

Jangan kau tanya di mana kata-kata
ia di pinggang langit malam, menguap.

No comments:

Post a Comment