Kita yang Surau dan Pohon

Musim berlari dengan kaki telanjang
memanjat tubuhmu yang amat rindang.
Didapat sesal banyaknya sekeranjang
kugugut daging, racaumu memanjang.

Tubuhku surau yang cukup lapang
tempat warga kampung sembahyang.
Dengarlah syahdu bait-bait bimbang
agar gelisahku bisa juga kau timbang.

Dulu kita selalu saling mencukupkan.
Kau bangun indah tubuhku melalui
irisan tubuhmu. Aku merawat molek
tubuhmu dari perhatian pendudukku.

Kekasihku, kini apa yang kau cari?
Biarkan tulus doaku yang memanjat
hingga tangan-tangannya terperanjat
saksi betapa masam buah gamangmu.


No comments:

Post a Comment