Bercukur

Aku menghadapi kaca seperti seorang petarung
aku menghidupi bayangan yang amat pemurung.
Kita dua kutub jauh bumi, menolak saling kenal
hanya bersinggung di mimpi dan di bibir peramal.

Pisau cukur itu cakar, membabat bebat rambut
di kepala, pipi, dan daguku. Ribuan uban jatuh.
Tak kuasa menanggung pikiran tentang kamu,
yang kini menunggang nyeri di rentang tiadamu.

Engkau hafal aku bercukur tak terlalu sering.
Yang aku lakukan hanyalah memotong dahan
dan merapihkan perih yang tak berkesudahan.

Aku yang kini plontos, penampang batang layu.
Kota tak bertaman, ladang rumpang kenestapaan.
Hiruk-pikuk hanyalah angan yang menyemut di dahi.
melalu-lalangkan cerita yang tak kunjung kau sudahi.

Aku rajin bercukur hanya sebagai bentuk ucap syukur
ada yang terus tumbuh dari kepala yang kerap tersungkur.


2 comments: