Sebuah Kado Sekaligus Surat Terbuka untuk Diri Sendiri



Halo Akal,

selamat menginjak dua puluh tiga tahun. Wuah, ndak terasa hampir seperempat abad kita hidup. Sepertinya kamu terlalu sibuk dengan urusanmu menganalisa ini-itu, mengurusi plintat-plintut anu-inu, berdebat,  mengkritik, dan memforsir diri untuk mengurusi remeh-temeh yang mungkin bukan kapasitasmu ya? Jian elok tenan, seperti orang becus saja... Tapi sepertinya pula, saya belum melakukan apa-apa untuk membantumu, pasti lah kau menganggap saya seperti seorang pengecut, hanya bisa diam, mencari aman saja, dan lain-lain. Lak cilaka! Padahal maksud saya ndak seperti itu, lho! Nah, sepertinya waktu kian menipis. Nah, sepertinya ini saatnya bagi saya untuk bersuara.

Di hari tenang yang konon cuma dongeng karena kampanye tetap berlanjut di akar rumput sana, saya melayangkan surat terbuka untukmu. Tetapi tenang saja, jangan keburu naik darah. Ini surat terbuka, bukan seperti surat terluka yang banyak dilayangkan untuk mempertanyakan sikap sekaligus memojokkan orang lain, kok! Saya berani sumpah. Saya menulis surat ini untuk memojokkan dan mempertanyakan sikap diri sendiri, menggugat akal, ya  menggugat kamu itu! Sukur-sukur bisa memojokkan– yang tentunya dalam artian positif, sekaligus menggugat akal segelintir orang di negeri ini. Tetapi jika dirasa cara ini ndak juga benar, maafkan lah saya yang kelewat sok tahu. Mintakan maaf kepada Gusti…

Kamu rak tentu ingat toh? Hari itu, pertengahan Mei 1998. Kita masih berusia tujuh tahun. Tapi semuanya begitu terekam jelas. Solo, kota kelahiran kita, ikut luluh-lantak akibat ulah sekelompok orang tak bertanggung jawab yang berusaha mengacaukan stabilitas negeri ini. Kita melihat pesta barbar di mana-mana. Banyak bangunan dibakar, orang-orang sibuk menjarah harta, tangis pecah di mana-mana. Ngeri ya? Tapi ya begitulah kita manusia, tamak itu rak identitas kita, toh?

Lho sik, sebentar. Kamu pasti bertanya-tanya. Mengapa saya memulai surat ini dari masa yang muram itu, pasti kamu sama seperti orang-orang yang menganggap saya terlalu sibuk membahas luka masa lalu dan tak fokus menatap masa depan, tapi ijinkan saya bertanya: jika kamu punya kerabat yang direnggut nyawanya bukan karena kesalahannya, apakah kamu dengan bebas melupakannya, menganggapnya sebagai sesuatu yang alamiah karena itu memang harga dari sebuah peradaban yang gegas? Siapa yang bisa dengan tegas menolak agar trauma tak mengusik di sepanjang umur kita? Saya pastikan tidak ada. Yang membuat manusia tetap sebagai manusia adalah ketidakmampuannya melupakan trauma, lho. Trauma itu, tangga dari alam sadar manusia menuju ke alam bawah sadarnya. Sesuatu yang pengap, berbau, seperti sebuah gudang, tetapi membuat manusia sesekali harus turun ke sana, mencari apa saja yang bisa dibawa naik untuk memperbaiki hidupnya. Jadi, mau sampai kapan pun, trauma itu akan selalu relevan untuk membaca situasi politik negeri ini. Kalau kamu baru menyadarinya, tak masalah, toh urusan mengolah-rasa memang urusan saya, tapi bukankah setiap akal baru mencapai kediriannya kalau ia berbesar diri untuk dibantah? Maka kamu cukup minta maaf ke Gusti…


Kamu tentunya sudah mempelajari banyak hal. Saya tahu meski kamu ndak pintar-pintar amat, tapi otakmu juga tak ditempatkan Gusti di tempurung dengkul, sepertinya otakmu masih aman di tempurung kepala. Maka saya tak akan bicara panjang lebar mengenai sumbangsih mau pun cela capres nomor satu dan dua. Hal yang demikian sudah banyak disinggung di banyak esai mau pun buku-buku. Atau jika kamu malas, kamu masih dengan mudah menemukannya di mesin pencari seperti google hanya dengan satu dua keyword saja. Saya juga tak akan bicara mengenai kepantasan mau pun ketidakpantasan calon presiden nomor satu dan dua, karena jika saya yang bicara tentu lah tuduhan macam-macam akan disematkan kepadamu juga. Lhawong kita ini orang Solo, ya sudah pasti mudah ditebak bakal dukung siapa! Wis jan..

Saya hanya ingin mengajakmu mengerahkan segenap kemampuanmu.  Akal baru sah disebut sebagai akal jika ia tak tega mengakali diri sendiri dan orang lain. Rak begitu toh? Saya pikir sampai di sini kamu menjalankan tugasmu dengan baik untuk menjaga akalmu senantiasa jernih. Ini bukan untuk memantas-mantaskan kamu lho ya, sebab saya pikir setiap manusia yang bisa bertahan hidup pasti lah akalnya jernih. Bagaimana mungkin orang yang akalnya cemar bisa melangsungkan hidupnya? Jika pun kamu ngeyel bahwa orang jenis ini pasti ada, saya tegaskan, mereka itu secara saintifik hanya kebetulan masih bernapas, tapi tak hidup. Kebetulan bernapas dan hidup sangat jauh berbeda. Saya rasa kamu tahu maksudnya. Jadi mari beranjak dari urusan akal yang jernih ini. Yang mau saya garis bawahi hanya satu hal: dalam usahamu mempraktekkan akal jernihmu, kamu kerap menempuhnya dengan cara-cara yang cemar. Saya pun sadar saya punya tanggung jawab untuk itu karena tak mencegahmu melakukannya. Kamu ikut memaki dan  mencibir lawan politik pilihanmu. Kamu pun sadar bahwa yang kamu lakukan tidak benar, hanya saja kadang egomu minta dipuaskan. Ya sudah, wis kadung kalau kata orang tua. Biarkan saja. Minta maaflah pada diri sendiri dan Gustimu…

Saya tahu kamu jengah karena banyak orang bisa seenak udelnya mengambil pilihan politik A, tapi prakteknya B. Kian hari hanya kian bertambah kebisingan, tapi pasokan bahan bakar tak bertambah sehingga tak membawa negeri ini ke mana-mana. Mungkin itu harga dari mahalnya demokrasi. Saya paham kamu pun pening sebab kian hari kian banyak orang tak lagi malu jika suaranya bisa dibeli dengan uang, padahal tokek saja sampai akhir zaman tetap konsisten sama suaranya: "tokeeek!" Mungkin karena mereka merasa kepentingan pribadinya harus ditempatkan di atas  kepentingan orang banyak, harus jadi keutamaan daripada sekadar memikirkan cara pandang politik para pemilih pemula misalnya. Tapi kamu pun tak punya hak mengkritisi, toh itu cara mereka bertahan hidup. Terlepas dari apakah fasilitas yang nanti mereka terima usai pemilu tak seberapa nikmatnya jika dipimpin oleh pemimpin yang salah, itu urusan lain. Mereka hanya belum sadar dan kamu harus terima itu. Mintakan maaf saja ke Gustimu…

Kamu pun sudah tahu bahwa sejarah dipesan karena pemesannya tak bisa memesan masa depan. Jika alat tukar itu ada di genggaman kita dan nilainya sebesar satu suara, masakkah kita rela menyia-nyiakannya? masakkah kita rela menghabiskan banyak waktu untuk mencaci dan memaki hingga lupa mengemban tugas masing-masing, sesuai dengan kemampuan kita? Saya hanya memintamu berfokus pada sosok pilihanmu.  Kalau sudah mantep, dukung dengan segenap hati dan langsung menjadi oposisi jika ia terpilih nanti. Kamu sudah lihat betapa banyaknya orang yang tadinya apatis dan apolitis tergerak turut serta membantu. Tak pernah dalam sejarah kita ada gerakan massa demikian besarnya untuk satu tujuan kebaikan yang sama. Jadi saya harap jelas lah pengertianmu mengapa saya mengawali surat ini dari satu potongan kejadian itu. Setiap negara yang ingin maju tak pernah membiarkan sejarah negerinya hanya tercatatkan di lembar-lembar buku dan teronggok di museum, setiap negara maju membawa serta trauma masa lalu dan meminta generasi mudanya menyalin itu dalam ingatannya.

Kini waktu kian menipis, orang-orang jahat akan terus ada, tetapi orang-orang baik pun akan selalu  lahir setiap harinya. Nasib kerja demi kebaikan memang akan terus ditingkahi bermacam-macam fitnah, tipu daya, bahkan aniaya, tapi itu lecutan kita untuk terus maju dan berkarya. Mari bekerja bersama untuk masa depan yang lebih baik. Mari membangun rumah yang nyaman untuk anak cucu kita– sebuah rumah yang tetap nyaman ditinggali meski mungkin hujan membuat rumah bocor di mana-mana, tetapi setidaknya hujan air jauh lebih menggembirakan daripada hujan peluru, bukan? 

Mari melangkah ke dalam bilik suara tanpa suara, karena kita sudah membulatkan suara untuk satu sosok: ia yang menekankan kerja, kerja, dan kerja tanpa banyak bersuara.


Salam,
Nurani.

Jakarta, 8 Juli 2014



1 comment: