Picing Mata Nanas

Sekian lama aku mempelajari cara bertahan,
meski getah, tajam duri, dan kilau petah buatku
seperti buah yang tak mungkin dipanen Tuhan.
Sebab kau hafal sisi luar tubuh kata dan tubuhku,
keduanya dipisah jalan sebesar pematang bayang.

Sejak bulat bibirmu setajam pisau dapur ibuku,
keutuhan tubuh berairku tinggal menunggu waktu.
Kau mengirisku miring melingkar, hingga lagu-lagu
dari kesunyian hutan gagal buatku menahan gemetar.

Tetapi aku akan terus tumbuh, sebab ingatan-ingatan
itu puluhan mata berselubung getah yang mengintaimu.
Cintaku adalah tunas tersemai di pekarangan tidurmu,
ia akan tumbuh ketika orang-orang memuji kesegaranku,
ia mencecapmu hingga rebak gatal pada sekujur lidahmu.

Tanggal lah kulit dari tubuh, tinggal daging menguning,
tapi tak ada tandingannya kelegaan yang kupetik nanti.
Sebab kesedihanku telah kau bilas garam, murni seperti
puisi, aku akan menangis dan telanjang seperti bayi!

Solo, 2014

No comments:

Post a Comment