Nging

: aprilian bima

1.
sewaktu kecil, aku punya kebiasaan
yang mungkin sekarang masih dipunyai
banyak orang dewasa. aku tak bisa tidur
jika televisi tak menyala. aku amat mencintai
televisi, ia buatku melupakan kecemasanku
pada gelap dan seringai dari balik kolong kasur,
aku bisa memerangkap banyak peristiwa, misalnya
jika musim hujan tiba dan ada berita tanah longsor,
di ingatanku ada banyak toples, maka aku pisahkan:
ingatan tentang tiang listrik, pohon-pohon ambruk,
burung pemangsa bangkai, dan rumah yang tertimbun.
karena riuhnya, malam dan imajinasiku soal hantu seperti
gelembung sabun yang kan meletus dan kutertawakan.

2.
aku terus tidur dengan televisi yang menyala
hingga smp. tapi kau perlu tahu,  fitur terpenting
televisi yang kubutuhkan ketika tidur adalah suaranya.
aku berterima kasih pada ibu yang setia mengeraskan
suara setiap malamnya. suara kesukaanku hanya timbul
jika hari menjelang pagi, ia hadir dalam bentuk pelangi.
ia punya suara "nging" yang amat panjang. aku tak pernah
bosan mendengarnya, menurutku ia lebih indah dari lagu
apapun, karena ia menjaga, ia menghangatkan seisi dada.

3.
Bima, bisakah kau membayangkan bunyi "nging" itu?
ia seperti kereta yang melaju tak kenal lelah hingga jauh,
ia sauh yang jatuh dan membuat dasar laut bergemuruh.
jika kau tak mengerti maksudku, jangan dipaksakan.
kau hanya harus membayangkan rasanya menggambar
wajah-wajah yang matanya seperti tak dinaungi awan,
yang senyumnya mengembang ringan, sama sepertimu,
sebab ketiadaan suara tak membuatmu takut terlupakan.
seperti itulah aku membayangkan betapa beningnya
bunyi sunyi yang kau nikmati seumur hidupmu.

- Solo, 2014


NB:
Puisi ini saya buat setelah merayakan tahun baru bersama teman-teman difabel dari Gerkatin Solo. Bima, salah seorang dari mereka yang tuli sejak lahir rupanya piawai menggambar. Sepanjang percakapan berjam-jam itu, semangatnya sungguh membuat saya malu dan berjanji pada diri sendiri untuk lebih mempertimbangkan setiap suara yang mulut saya akan ucap dan suara macam apa yang telinga saya akan serap. Di kesempatan lain, saya juga akan buktikan ke Bima kalau saya juga bisa menggambar, meski tak yakin akan sebagus gambarnya.

*) puisi ini dimuat di Suara Merdeka, edisi Minggu, 12 Januari 2014.

4 comments: