Mujur

langit malam menyala,
merah sudah banjir di mata
paha-paha mantapkan kuda-kuda,
berguling dan bersorak, kenangan diarak
dalam rupa naga berbulu mata lentik,
demikianlah jantungku menyalin
degup dari penanggalan tua nadimu.

wangi beberapa batang hio disulut,
riwayat dari pohonan Dewandaru
mengunci bayanganku, kita semeja
duduk bersama yang tumbuh darimu
: kesabaran yang gugurkan trauma kita.

dengan tanganmu kau lucuti tradisi
yang membekap tubuh dan jiwaku,
kau berdenyar, seperti ruh kayu bakar
berkali-kali mengasapi takdir sendiri.

mungkin masa depan paling rasuk ada
di dasar kuali, berbaur bersama lemak
bebek Peking, sawi putih, dan gelak kita.

Ling, apa tahun ini, apa kali ini,
kita sepasang kekasih yang mujur?

Solo, 2014

No comments:

Post a Comment