Lukisan Berhantu


 
“Ia yang terpilih, ia yang telah dipilih sendiri oleh muasalnya. Setidaknya dalam satu generasi di keluarga ini, harus ada tubuh yang menjadi medium leluhurnya untuk melindungi kita semua.”

“Ya sekarang Lanta, ia anak bapakmu.” ucap ibu dengan suara bergetar ketika mengenang masa-masa itu. Jika suaranya tak segoyah itu, aku tak bisa menangkap perasaan Ibu yang sesungguhnya dari ekspresi wajahnya. Ibuku pandai menyembunyikan emosinya. Pandangannya hanya menerawang jauh, seperti teringat akan suatu masa yang segera ingin dilupakan olehnya. Aku hanya bisa diam sambil menebak-nebak apa yang sejatinya dipikirkan Ibu. Entah ini keberuntungan, entah kutukan.

**

“Braaak!” terdengar suara begitu keras dari halaman. Seperti benda yang jatuh dari ketinggian. Aku sangka itu suara mangga yang telah ranum. Tapi aku segera sadar bunyi jatuh mangga tak sekeras itu. Aku pun sadar jika yang terjatuh benda maka tak ada suara mengaduh yang keluar. Ibu yang sedari tadi di dapur dan sedang mempersiapkan makan siang segera menyuruhku melihat apa yang sebenarnya terjadi.
“Lantaaaaaa!!” suaraku begitu keras hingga membuat tetangga berhamburan ke luar rumah.
Kusaksikan adikku tergeletak di tanah. Saking paniknya, aku sampai menabrak semua perabot yang menghalangiku. Meski ia sering membuatku kewalahan menghadapinya, sebenarnya aku begitu menyayanginya. Maka jangan heran jika kuku yang terkelupas akibat menghantam kaki pinggiran meja seperti tak kurasakan sebab aku lebih mengkhawatirkan kondisi adikku yang baru saja terjatuh dari pohon mangga setinggi enam meter.
“No, cepat bawa Lanta ke ruang tamu!” teriak Ibu seperti mengerti apa yang terjadi.
Aku membopongnya ke ruang tamu. Ibu datang dengan sekotak obat-obatan lengkap dengan betadine dan perban. Tetapi adikku hanya meringis, eskpresi wajahnya tak menunjukkan bahwa ia kesakitan. Aneh sekali, aku dan Ibu tak menemukan sedikitpun luka dan lebam di tubuhnya. Berkali-kali ia tersenyum seakan-akan ingin menunjukkan bahwa keadaannya baik-baik saja. Ia hanya bercerita dengan bahasa yang terbata, bahasa yang hanya kami pahami. Perlu kau ketahui, keanehan lain yang dibawa adikku adalah hingga umur sepuluh tahun, kemampuan berbicaranya jauh di bawah teman-teman sebayanya. Ia menguasai sedikit sekali kata yang membuat orang yang tak mengenalnya selain kami tak tahu apa maunya. Tetapi di saat-saat tertentu, ia bisa bercerita begitu fasih mengalahkan para pendongeng, seolah-olah ada yang meminjam raganya.
Setelah aku bopong ke ruang tamu dan diberi minum, adikku bercerita. Ia melihat sesosok mahkluk tinggi besar menyapanya. Jika kami biarkan saja ia akan makin meracau. Mungkin bukan racauan, mungkin benar apa yang ia katakan, hanya saja itu sulit diterima oleh akal sehat kami. Maka aku segera memutus omongan Lanta dan menyuruhnya istirahat. Kami mengakhiri siang itu dengan makan sayur asem dan sambel terasi buatan ibu. Tetapi dalam hati aku terus bertanya-tanya, jika bukan karena anak kesayangan bapakku, pastilah adikku sudah gegar otak. Bagaimana tidak, pohon setinggi enam meter cukup tinggi untuk membuat tempurung kepalamu pecah seperti telur ayam mentah. Tiba-tiba timbul perasaan sayang yang luar biasa hebat dalam diriku. Bagaimana pun anehnya Lanta, ia adikku, aku tetap menyayanginya, meski ia begitu berbeda. Tetapi ada seseorang yang tetap diam di kursinya. Ia tetap merokok dengan santai sambil sesekali tertawa kecil, sosok itu Bapak. Peristiwa yang membuat kami sekeluarga panik itu seperti dianggap bukan sebuah masalah olehnya. Tak lama setelah itu Bapak meninggal karena penyakit kanker paru yang dideritanya…

**

Sesungguhnya aku tak begitu mengenal Bapak. Aku tak terlalu akrab dengannya. Bahkan mungkin itu juga dirasakan seluruh anggota keluarga kami, bahkan oleh ibu sendiri. Bapak seperti sengaja menciptakan jarak di antara kami. Ia seperti punya teritori bagi dirinya sendiri yang tak kasat. Bapak sosok yang pendiam, atau lebih tepatnya pribadi yang menimbang benar apa yang hendak ia ucapkan. Jika boleh jujur, aku sering tak mengerti apa tujuan Bapak hidup di dunia ini. Sebab saban hari pekerjaannya hanya menghabiskan berpuluh-puluh batang rokok sambil memandang ke satu titik begitu lama. Hari-hari hanya dihabiskan dengan menerawang dan memfokuskan diri pada sesuatu. Tetapi lebih daripada itu, aku jauh lebih tak mengerti apa mau ibuku, bisa-bisanya ia betah hidup puluhan tahun dengan sesosok tubuh yang seperti dikendalikan suwung seperti itu.
Dari cerita yang dituturkan Nenekku, sebenarnya waktu kecil Bapakku tak beda dengan anak sebayanya. Ia gemar bermain dan begitu periang. Tetapi keadaan berbalik total sejak bapak tak sengaja menemukan keris pusaka yang disimpan Kakek di sebuah kotak tembaga yang sarat ukiran dan berdebu itu. Memang, Kakek masih berdarah ningrat, meski tak ada keturunan langsung. Ada riwayat panjang yang mengalir di dalam tubuhnya, yang kemudian juga menderas di tubuh Bapak, dan tubuh adikku. Riwayat dari leluhur kami yang konon sudah melakukan penumpasan terhadap banyak jenis mahkluk tak kasat.
Selain pertalian darah, memang ada pertalian lain antara Kakek, Bapak, dan Lanta. Pertalian yang kami yakini dijalin dengan pihak yang tak pernah kami tahu wujudnya. Kakek adalah seorang pertapa yang amat disegani kampungnya. Ia disegani karena berilmu tinggi, dari mana ilmunya berasal aku tak mau ambil pusing. Sebab banyak versi cerita yang membuatku makin merasa pening ketika memikirkannya.
Versi pertama bilang Kakekku dulunya seorang petani tembakau di daerah Karanggetas, tetapi karena kasus sengketa lahan dengan beberapa petinggi daerah, ia terpaksa merelakan lahannya diambil sebagian. Tak terima dengan perlakuan itu, kakekku mengembara mencari orang pintar. Konon ia berguru untuk membalas dendam. Benar saja, sekembalinya dari pengembaraannya, kakek berubah total. Ia kebal senjata, ia bisa membuat orang yang tak disukainya meregang nyawa dalam hitungan menit. Semua petinggi daerah mati dalam jangka waktu yang singkat dan berurutan. Orang-orang desa meyakini itu tindakan Kakek, tetapi karena lemahnya bukti dan takut dengan kesaktian Kakek, mereka akhirnya memilih diam dan pura-pura tak tahu menahu kejadian tersebut.
Maka jadilah, kakek beralih profesi sebagai pembasmi manusia. Tetapi setiap hendak melakoni pekerjaannya, Kakek menunjukkan sisi lain dari dirinya: ia masih punya hati nurani. Sebisa mungkin ia mencegah niatan orang yang meminta jasanya, ia merasa cukuplah ia saja yang tahu efek paling buruk dari pembalasan dendam, cukuplah ia saja yang nantinya merasakan siksaan konsekuensi perbuatannya. Berkali-kali ia berpesan pada orang bahwa ia hanyalah medium, akibat dari perbuatan itu tetap akan diterima orang tersebut. Karma tetap membuntuti pihak yang berniat menuntut balas. Kakek tak berani menanggung segala akibatnya. Tetapi bukannya sepi permintaan, kakek justru makin kebanjiran pelanggan. Konon mereka tak masalah dengan risikonya. Tumpas saja dulu, karma pikir belakangan. Begitu pikir mereka. Lama kelamaan Kakekku yang tak betah juga, pekerjaan itu ditinggalkannya. Sebenarnya Kakek tak benar-benar beralih kerja, pekerjaannya memang bukan lagi pembasmi manusia, tetapi kini ia membasmi setan. Dan keahliann itulah yang diwariskan kepada Bapak, dan mungkin juga Lanta.
Versi lain menceritakan bahwa selepas sengketa lahan kakekku jatuh miskin karena lahan yang tersisa tak cukup untuk digarap dan dijadikan gantungan penghidupan. Di tengah kegundahannya, ia berjalan menyusuri ladang-ladang yang tersisa miliknya. Tanpa disangka, Kakek menemukan sebuah keris kecil. Dari situlah keanehan mengambil alih jiwa dan pikiran Kakek. Kakek berubah menjadi sosok yang dingin dan menakutkan. Konon keris itu punya isi, maka keris itu sering dimandikan kakek di malam-malam tertentu. Selepas malam itu, Kakek menjadi begitu pendiam dan kerap menghilang tiba-tiba. Jika Kakek kembali, pasti satu atau dua hari sebelumnya ada orang yang meregang nyawa dengan posisi badan yang menekuk tak beraturan.
Dua versi tersebut rasa-rasanya tak ingin aku percayai tapi tak mungkin juga kusingkirkan dari kecamuk pikiran, sebab di penghujung hayatnya, ruh kakek memang seperti menolak mati meski raganya sudah tak berdaya. Kata orang-orang tua, kakek terlalu banyak punya “pegangan”, terlalu banyak kekuatan yang menahan dia agar tetap di dunia. Hingga kini banyak yang percaya sesungguhnya Kakek tak benar-benar mati. Ruhnya hanya berganti tempat dan meminjam tubuh keturunannya. Percaya tidak percaya, cara berpikir dan tingkah laku Kakek mirip dengan Bapak dan Lanta. Di hari-hari tertentu, merek bersikap layaknya orang pada umumnya, tetapi di lain waktu, mereka seperti tak mengenali diri mereka sendiri. Terlepas dari itu, ekonomi keluarga kami membaik, tak ada saingan yang berani mencelakai kami sejak Kakek dipercaya punya kesaktian sehebat itu. Tetapi tampaknya sikap aneh Bapak, Kakek, dan Lanta memang konsekuensi yang harus kami terima sekeluarga.

**

Aku memacarinya karena ia perempuan tercantik yang pernah kutemui. Baiklah kuralat, aku memacarinya karena cuma ia perempuan yang bisa menerima aku apa adanya. Aku tak yakin masih banyak stok perempuan di muka bumi yang mau memacari seniman kumal yang lebih terlihat seperti gembel ketimbang seniman sepertiku. Siapa juga yang mau memacari pria berambut keriting awut-awutan dan jarang mandi sepertiku?
Sebenarnya aku tak punya darah seni sebab kemampuan  berhubungan dengan mahkluk halus yang diturunkan Kakek dan Bapakku pun tak bisa dianggap sebagai seni. Aku pun tak akan rela jika hal-hal mistik seperti itu dianggap sebagai seni sebab selama belasan tahun aku hidup, aku belajar bahwa seni adalah sesuatu yang menentramkan jiwa, sesuatu yang membawa seseorang keluar dari kegelisahan-kegelisahan mereka, tetapi hal-hal mistis bin menyeramkan itu hanya membawaku dalam kondisi ketakutan, terlebih jika melihat wajah Bapak merah dan meraung-raung seperti ada yang memasuki tubuhnya seolah-olah ada dua manusia bertarung di satu tubuh. Pernah juga wajah Bapak seperti macan, di lain waktu lehernya seperti hendak terkembang seperti ular. Apanya yang seni dari peristiwa menakutkan semacam itu?

Aku  memilih jalan seni sebenarnya hanya pelarian dari kepenatanku terhadap rutinitas. Aku tak melanjutkan pendidikan formalku di SMA karena malu punya adik seperti Lanta. Teman-teman yang mengetahui riwayat keluargaku gemar melebih-lebihkan cerita sehingga membuatku kerap mendakat predikat aneh oleh banyak orang. Sebenarnya itu tak terlalu kumasukkan hati, tetapi akhirnya aku tak tahan juga karena cakupan bahan lelucon mereka meluas menjadi keluargaku. Ada yang mengatakan keluarga aneh, keturunan setan, dan sebagainya. Memang, aku tak akan bisa marah karena memang kenyataannya demikian, namun tetap saja aku sakit hati mendengar ocehan mereka.
“Nanti sehabis kuliah aku main ke studiomu ya, kebetulan hari ini aku gak ada janji sama temen-temen kampus.”
Pesan singkat dari Maya itu benar-benar menghangatkan studio kecil yang kumiliki ini. Maklumlah, hanya aku yang betah berlama-lama di tempat sederhana dan pengap favoritku. Wahana kontemplasi, begitulah aku menyebutnya. Terasa sok intelek memang, tetapi aku pantas berbangga sebab studio ini kubangun dari penjualan karya-karya lukisanku selama ini. Di tempat ini pula aku seperti melakukan perjalanan waktu ke masa-masa Renaisans, bertemu Michaelangelo, Da Vinci, ataupun Rembrandt. Di lain waktu, studio kesayanganku membawaku tiba di zaman penjajahan di mana banyak pelukis negeri ini menumpahkan amarah dan kritik kerasnya melalui lukisan bertema agraria yang kerap memotret tangan-tangan legam dan kening-kening berkerut para petani, buruh, dan para pekerja paksa.

***

Aku tak bisa tidur karena menghadapi pameran seni pertamaku. Aku sadar aku bukan seniman yang multitalenta. Aku juga bukan seniman yang beruntung. Aku bilang begitu karena pada dasarnya banyak seniman yang tak terlalu punya talenta tetapi beruntung. Hanya melukis asal-asalan saja mereka dikenal, tak lain karena punya banyak teman baik yang tak letih berpura-pura menganggap mereka berbakat dan karyanya bagus. Pada akhirnya mereka kehilangan dedikasinya untuk seni setelah diri mereka jauh lebih besar dari seni itu sendiri. Menurutku itu sudah menyalahi kodrat seorang seniman. Aku pernah mendengar seseorang bilang bahwa saat seorang seniman lebih besar dari karyanya, tepat saat itu juga ia telah gagal sebagai seorang seniman. Seperti itu. Aku tak cemburu kepada mereka, sebab aku teguh pada keyakinanku. Aku perlu menunggu lebih dari sepuluh tahun untuk mempersiapkan pameran tunggal lukisanku. Ada begitu banyak konsep yang sejak muda kuendapkan untuk nantinya kutumpahkan semuanya di pameran tunggalku. Aku percaya pameran tunggal adalah pijakan awal seorang pelukis dianggap pelukis. Aku diserang kecemasan berhari-hari memikirkan ide gila apa yang harus kulakukan. Sebab aku percaya pameran pertama wajib hukumnya harus beda dan berkesan atau akan dilupakan. Aku selalu berpedoman seperti itu bahkan cara berpikir seperti itu terbawa dalam keseharianku. Sebisa mungkin aku harus bertindak hati-hati, sebisa mungkin berpikir matang, sebisa mungkin melakukan apapun dengan cara-cara yang artistik dan nyentrik. Maklum lah, aku ini seniman, aku juga perlu menjaga citra diriku seperti para politikus. Meski seniman aku juga harus menguasai cara bercitra yang baik dan benar. Aku tak ingin kredibilitasku dipertanyakan hanya karena aku tak nyentrik atau tampil nyeleneh.
Tiba-tiba secercah cahaya seperti menembus kepalaku. Aku mengerti. Lebih baik hidup sebentar tetapi meninggalkan kesan yang begitu lama daripada hidup lama tapi tak meninggalkan kesan apapun di benak orang-orang, dan lebih baik hidup sebentar daripada hidup lama tapi meninggalkan sedikit saja kesan buruk!  Ah, ya! Aku bisa memasukkan unsur satir di pameran tunggalku!

**

Aku begitu bahagia sebab Ibu, Maya, dan Lanta hadir di pameran tunggalku. Maya menemani ibu mengobrol dengan banyak tamu-tamu dan temanku yang hadir. Rata-rata mereka menyampaikan kekagumannya padaku karena berani memilih jalan sebagai pelukis di tengah minimnya apresiasi seni anak muda di negeri ini. Aku yang sayup-sayup mendengarnya hanya bisa berterima kasih dalam hati. Aku sangat bahagia. Semua orang larut dalam kehangatan dan keakraban, semua bercakap-cakap begitu lama sampai tiada yang menyadari kedatangan adikku dengan wajah yang sudah memucat seperti buah mengkudu yang telah matang. Ia mendekati kami sambil berteriak-teriak seperti orang kesurupan. Tanpa menunggu lagi, kucengkeram tangan dan kutatap matanya perlahan, kucoba yakinkan ia bahwa semuanya akan baik-baik saja, tetapi yang terjadi sebaliknya, wajahku memucat ketika memfokuskan pandanganku ke sepasang mata yang hitam itu. “Ah bapak di sana. Benar-benar di sana. Dasar anak bapak…” batinku.

“Mas Nowo kenapa?” ujar Lanta seperti mengerti kebingunganku.
“Kenapa apanya?”
“Kenapa mas Nowo ajak Lanta ke sini? Lanta takuuut…”
“Memangnya ada apa, Ta?” tanya ibu sambil mengusap-usap pundak adikku dan berusaha menenangkannya.
Tiba-tiba saja Lanta kembali bisa berbicara dengan lancar. Seperti ada yang menuntunnya mengendalikan kata-kata. Begitu cepatnya intensitasnya bercerita hingga hampir-hampir terdengar seperti racauan.
“Di sana, Jika kau cermat perhatikan. Akan banyak kau temui penguasa dunia yang bermukim di atas langit dan di bawah perut bumi. Kau bisa jumpai rupa-rupa Leviathan, Baal, Yam atau Lotam, Gog, Magog, bersama puluhan ribu bala tentaranya, ada yang menaiki hewan-hewan seperti badak raksasa, ada yang berlari-lari mengacung-acungkan trisula, kesemuanya bergigi taring lancip dan berhidung bengkok, perawakannya raksasa pada umumnya. Mereka semua tinggi besar, kulitnya merah kecoklatan seperti telah ratusan tahun dijerang di tungku raksasa. Dalam sekali melangkah mereka bisa menempuh jarak ratusan kilometer. Ya, mereka bersemayam di dalam lukisan-lukisanmu.” Setelah meracau dengan kecepatan bicara yang tiada terkira tiba-tiba saja kesadaran Lanta pulih, tak lama ia kembali bicara dengan nada terbata, “Maaas, Ibuk, ayooo pulaaang…!!” paksa Lanta setengah merengek..

Seketika itu juga kami yang bergerombol dan sejak tadi asyik berhaha-hihi terdiam. Aku dan ibu hanya saling bertatapan sembari memandangi lukisan wajah tokoh-tokoh pejabat publik yang tersandung banyak kasus korupsi, pencucian uang, kasus video mesum, dan sengketa lahan yang memang sengaja kulukis sebagai tema besar pertunjukan perdanaku. Kami lalu tersenyum dan mengangguk tanda saling mengerti… (*)

Solo, penghujung April 2013

2 comments:

  1. πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    ReplyDelete
  2. πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    ReplyDelete