Laila


Malam itu setelah nonton bioskop berdua ia menginap di apartemenku karena hari terlalu larut untuk memulangkannya. Kami teramat bahagia, tapi sedang tak ingin bercinta karena hari itu banyak kegiatan yang kami berdua lakukan. Kami berdua tertidur keletihan. Seketika merah, teramat merah, kali ini merah yang lebih pekat dari bibirnya. Kali ini merah yang lebih menyala dari matanya ketika ia menegaskan enggan kehilanganku. Kali ini merah yang melumat tubuh kami berdua. Usut punya usut, ternyata ada arus pendek di lantai yang sama dengan apartemen yang kutinggali. Ia sebenarnya lebih dahulu terbangun karena menyadari panas yang luar biasa menggerogoti kamar apartemenku, tapi karena bibirnya tak bisa memperingatkanku kami berdua mengakhiri hari itu dengan kesunyian. Kesunyian yang tak terlalu mencekam karena telah biasa aku dan ia rasakan.

**
Pada awalnya hanyalah sunyi dan kekosongan. Sunyi telah lebih dahulu menempati tempat ini. Semuanya serba hitam dan diam. Lalu sebentuk ruh melayang-layang di atasnya dan mengeluarkan bunyi-bunyi yang menyerupai mantra, ibu dari segala bunyi-bunyian di tempat ini. Dengan kekuatan yang juga tiada terkatakan, bunyi yang mula-mula melahirkan bunyi-bunyian lain yang tak kalah asing. Sunyi yang semula menyelimuti tempat ini seolah tak bisa berontak dan meledak, gemanya memecah air dan udara yang mulanya adalah satu kesatuan. Dari rahim dunia atas lahirlah bunyi yang nantinya akan menduduki singgasana langit, ia menamainya dirinya sebagai gelegar guntur. Dari rahim dunia bawah lahirlah bunyi yang nantinya menguasai lautan dan menamai dirinya sebagai deru gelombang. Lalu lahirlah pula bunyi dari dunia tengah yang menggelegak  dari dalam tanah dan menamai dirinya gempa, bunyi-bunyi yang hijrah ke puncak dan turun bersemayam di dalam perut tanah dan nantinya akan menamai dirinya letusan. Seperti tak mau kalah, dari dalam tubuh tanah lahir bunyi lembut benih, ranting, dan daun-daun yang bergesekan dengan saudara tuanya, hembusan angin dari dunia atas. Tak lama setelah itu mulai lahir bunyi-bunyi yang nantinya akan melakukan harmonisasi bunyi-bunyi yang menempati dunia  atas-tengah-bawah, bunyi ringkik dan lenguh dan embik. Bunyi yang akan dimangsa oleh bunyi yang lebih segar dan berkuasa, yang dinamai auman dan lolongan. Semuanya berlangsung seperti sudah direncanakan dengan tanpa sepengetahuan sunyi yang menghilang entah ke mana, semuanya berlangsung seperti itu hingga bunyi berhenti beranakpinak setelah lahir wujud paripurna dari harmoni: bahasa, yang nantinya hijrah dan singgah di mulut manusia.

Pada awalnya hanyalah sunyi dan kekosongan. Tetapi kini, setelah sebentuk harmoni yang digaungkan dan diagungkan lahir, tempat ini seperti orkestrasi kekacauan. Bisakah kau bayangkan betapa telinga kerap memerah karena mendengar bising klakson kendaraan umur, suara dari mulut orang-orang yang gemar bergunjing, teriakan-teriakan nyaring berbalut kepentingan pribadi para politisi?  Tak ada partitur-partitur yang bisa dijadikan acuan, tak ada sebentuk kekhidmatan pun yang bisa dijadikan nada dasar untuk bisa menyanyikan kehidupan, tak ada varian-varian baru untuk menyelaraskan keheningan yang terlanjur menyepi seperti hilang ditelan bumi. Kebisingan selalu terjadi secara acak dan menimbulkan huru-hara di sana-sini. Sejarah yang terus membisu mencatat, bagaimana bunyi yang keluar dari sebuah mulut (kemudian kau kenal sebagai suara) bisa menimbulkan peperangan tiada akhir, sunyinya kemanusiaan, dan lahirnya bunyi yang paling menggiriskan hati sealam raya ini: bunyi tangis paling merdu dari bayi-bayi lapar korban perang. Tak ada lagi tempat bagi kebisingan, ia hanya akan menemui saudaranya yang lahir di lubang tahi yang terlalu banyak menimbun keserakahan bagi perut sendiri. Aha, barangkali bunyi berak yang betul-betul rindu kami dengarkan saat ini.

**
Aku dilahirkan dengan citra diri sempurna dengan definisi orang-orang pada umumnya. Aku bisa berjalan, meraba, melihat, mendengar, mengecap, dan berbicara. Aku benar-benar merasa tak ada yang istimewa pada tubuh yang telah kudiami selama dua puluh tahun ini.  Tapi dari sekian banyak indera yang dikaruniakan kepadaku, kemampuan berbicara lah yang paling kubenci dan pendengaran lah yang paling kusyukuri. Aku tak ingin mengulangi kesalahan orang terdahulu yang sering menimbulkan pertikaian hanya karena tingkah laku bibir mereka. Boro-boro berbicara di depan orang banyak, berbicara dengan keluarga sendiri pun aku kurang berminat selepas ucapanku hari itu, yang membuat ibuku menangis setelah aku mengutarakan alasankujarang pulang rumah. Oleh karena itu aku kurang suka jika dipaksa harus berbicara atau berpendapat, aku lebih suka menuliskan mereka, sebab kata-kata yang tertulis tak terlalu bisa menggambarkan emosi, tak ada getar ketakutan atau rasa senang berlebih di tubuh mereka. Aku seperti sedang melakukan permainan dengan orang-orang: membuat mereka kesulitan menebak-nebak suasana hatiku yang akan mudah ditebak seandainya aku mengutarakannya lewat bibirku. Maka untuk mengganti cara berkomunikasi aku lebih suka menggunakan bahasa tubuh, meski aku bukan seorang tunawicara. Aku tak pernah kesulitan memenuhi kebutuhanku. Jika ingin makan di warung aku tinggal tunjuk mau menu apa, jika hendak membeli bahan bakar aku tinggal menggunakan jariku untuk memberitahu akan mengisi tangki kendaraanku dengan berapa liter. Aku mengusahakan diriku untuk meminimalisir keluarnya bunyi-bunyian yang tak perlu. Aku tak ingin semakin mengacaukan dunia yang mulanya hanya terdiri dari sunyi dan kekosongan. Aku lebih suka mendengar daripada bertutur. Sebab aku selalu percaya, bahwa seni terbaik dari komunikasi adalah mendengar. Sudah banyak orang besar lahir dari kemampuan berbicara, tetapi sedikit orang besar lahir karena kemampuannya betah jadi pendengar. Aku bukan orang yang menyukai bunyi-bunyian. Jika banyak orang mengaku tak bisa hidup tanpa mendengarkan musik, aku justru sebaliknya, keheningan adalah musik yang tak bisa membuatku hidup jika jarang kudengarkan. Aku sering menyepi ke desa-desa atau tempat-tempat yang tak memuat eksistensi kebisingan. Hingga sesuatu yang kutakutkan terjadi. Aku dipaksa banyak berbicara.

**
Laila namanya, Bibirnya teramat merah. Merah yang begitu merah. Tidak seperti warna darah yang kental, merah bibirnya lebih muda, tetapi tak terlalu muda, seperti kesumba yang komposisinya sama dengan air yang melarutkannya. Yang lucu adalah ketika melihat bibir itu kepedasan, bibirnya alangkah merah mengalahkan senja terbaik yang pernah kau lihat dengan matamu. Meski teramat merah, ukuran bibirnya mungil, tetapi sangat artistik, sebab bagian atas maupun bawahnya menyerupai kelopak bunga padma. Aku selalu menduga-duga seperti apa rasanya jadi makanan yang bisa melewati bibirnya, seperti jalan lain menuju surga. Jika membayangkannya aku seperti memercayai kehidupan kembali, tak peduli apakah dosaku banyak atau kebaikanku banyak, aku ingin mendapat privilese terlahir kembali menjadi sup kacang merah kesukaannya. Aku ingin leleh di langit-langit mulutnya yang juga tak kalah kemerahan.
Tetapi bibirnya tak seperti bibir orang pada umumnya, dari dalam sana tak ada bunyi-bunyi yang memberi salam kepada dunia. Bibir itu tak sekalipun mengucapkan terima kasih jika aku telah mengantarnya pulang, bibir itu tak sekalipun menunjukkan gejala-gejala marah besar jika aku lalai menepati janji makan siang, bibir itu tak memproduksi suara-suara manja jika aku mengusilinya, bibir itu tak melahirkan desahan dan erangan, bibir itu hanya meninggalkan pagutan-pagutan kecil di leher dan seluruh tubuhku seusai kami bercinta, bibir itu tak bisa mengucapkan “aku menyayangimu” seperti yang sering aku dengar dari bibir-bibir mantanku terdahulu. Aku merasa ada kecocokan dengannya, meski aku harus banyak berbicara. Aku membenci sekaligus mencintainya.
Bagaimana pun aku tetap bersyukur. Aku selalu menganggapnya sebagai harmoni paling merdu yang tak bisa ditandingi oleh alat musik apapun. Tubuhnya terjalin dari dawai-dawai yang mendentingkan suara-suara yang tak sekalipun didengar manusia, coba saja kau berani menatap matanya, seperti ada yang menusuk jantungmu dan membuatmu ngilu seketika melebihi sayatan biola yang paling menggiriskan  hati. Tetapi aku sangat mencintainya, meski ia tak pernah bisa mengutarakannya padaku. Kadang aku menantikan hari ketika aku bisa mendengar ia memanggil namaku, tapi aku tahu itu hanya mimpi. Kadang aku menantikan hari ketika aku benar-benar bangun dan sadar semua ini hanya mimpi.  Tetapi jika mimpi seperti ini saja sungguh sangat membahagiakan, mengapa aku harus terjaga? Aku ingin bermimpi dalam lautan api yang menjilat-jilat tubuhku ini seribu, bahkan berjuta-juta tahun lagi.

**
Pada mulanya sunyi dan kekosongan. Pada akhirnya akan kembali kepada kekosongan. Kini Ruh yang satu memperanakkan sepasang ruh, dan kembali melayang-layang. Di atas sini, kami lebih leluasa membahasakan apapun karena kini bahasa terbebas dari keharusannya hadir bersama suara, bahasa hadir dan tak lagi bersekat, kami bisa saling berbicara, marah, tertawa, dan bergantian menuliskan puisi dengan mata pena keheningan. Tak perlu ada intonasi yang mengganggu sebab dengus nafas kami jauh lebih tegas daripada penekanan suara yang bisa dilakukan penyair manapun ketika membacakan karyanya. Telinga kami tak perlu memerah karena dikutuk orang-orang yang menganggap kami kena azab sebab tak mendengarkan khotbah para pemuka agama dan orang-orang suci di dunia yang berkali-kali melarang kami bersatu karena kami berbeda keyakinan dan itu hanya membuat telinga kami berdarah-darah. Kami lebih percaya dengan suara-suara purba yang lebih dahulu lahir di  dalam sanubari kami jauh sebelum kebisingan mengambil-alih tempat-Nya. Suara yang berkali-kali menegaskan bahwa meski kami terlahir dengan banyak perbedaan, kami tetap lah mempunyai Tuhan yang sama, Tuhan Yang Maha Mendengar.


Solo, 2013

No comments:

Post a Comment