Hutang Judi

Lukisan karya A. Marwan

**



“Kamu pokoknya harus janji, dimana pun kamu tinggal, kamu harus jadi jagoan!”
“Ya jelas, tapi ndak berarti aku bakal mudah diadu kayak si Pujo, Jago Wangkas Genimu itu!”
“Hahaha, harus!”
“Tapi janji dulu sama aku, besok-besok harus cari kerja. Jangan nyusahin Mbah Sri terus.  Jangan sabung ayam melulu.”
Wes to percaya aku. Dari sini aku juga bisa kaya raya kok. Kamu lupa Cindelaras pernah menang sayembara dan dapat setengah harta Raja karena kegemarannya sabung ayam?”
“Dasar gemblung! Itu kan bapaknya sendiri. Beda cerita! Ngelus dada wis aku kalau ngobrol sama kamu. Karepmu wae!”
“Hahaha, yasudah sana, sudah ditunggu bapak ibumu itu, aku gak enak sama mereka!”
“Yasudah, pokoknya aku balik dari sini kamu harus sudah sukses!”
“Iya, pasti. Kamu juga ya, sukses di kota, Darsa!”
“Daaah!”

***
Sesungguhnya percakapan itu bukanlah percakapan yang luar biasa. Percakapan itu  tak terjadi di tempat-tempat yang punya potensi menimbulkan daya magis dan monumental jika diingat. Percakapan itu tak diungkapkan di tengah laut yang mengamuk, tak di atas gunung yang diterjang badai, dan tak juga diungkapkan di padang rumput sehijau zamrud. Lawan bicaraku pun bukan tokoh terkenal yang mengharuskanku mengingat setiap detil ucapannya. Itu hanya percakapan antara dua anak yang hendak berpisah. Percakapan itu hanya terjadi di depan pasar, tempat bau busuk menghantui pernapasan seperti arwah-arwah gentayangan. Lawan bicaraku hanya seorang anak berbadan kurus yang tubuhnya habis digerogoti kemelaratan. Tetapi yang membuat percakapan itu tak biasa adalah dampak percakapan itu dalam kehidupanku. Bertahun-tahun sesudahnya, beratus-ratus kilometer dari pasar busuk itu, di lapangan yang difungsikan untuk upacara ini, ngiangnya masih begitu nyata di kepalaku. Karena percakapan itu aku percaya bahwa kata-kata memang lah bernyawa. Tiada yang lebih menguatkan selain seorang sahabat. Tak peduli seberapa dangkal ucapan seorang sahabat, waktu dan kenangan jalin-menjalin mengemasnya dan kesan yang timbul akan selalu dalam.

***

Aku mengenalnya di warung kopi paling ramai di kampung ini. Ia berpostur pendek, dengan sepasang mata tak kongruen  yang setengah kulit wajahnya terkena luka bakar. Luka itu didapat karena kebakaran hebat yang melahap rumahnya ketika ia sedang tidur siang. Untung lah tetangganya terus berteriak-teriak sehingga membuatnya terjaga. Ia yang terjebak api seorang diri di dalam rumah memaksakan diri melompat menembus kobaran api yang mau tak mau membuat setengah kulit wajahnya mengelupas. Wajahnya memang perwujudan kesedihan yang termanifestasi dalam wujud seorang anak. Ibunya meninggal ketika melahirkannya. Bapaknya jarang tinggal di rumah karena ia adalah seorang tukang sabung ayam ulung. Ia kerap bertandang ke kampung-kampung tetangga barang untuk bertanding. Jika menang, ia akan menghabiskan uangnya semalam sahaja untuk berfoya-foya bersama perempuan-perempuan sundal yang banyak ditemui di kampung. Jika kalah maka ia akan berdiam di rumah berhari-hari seperti seorang pertapa. Berhari-hari kamarnya hanya diselimuti asap tebal yang berbau seperti kemenyan. Tak jarang jika malam hari tetangganya sering mendengar suara lelaki menembang beberapa lagu dalam bahasa Jawa yang penggunaan bahasanya halus sekali. Orang-orang percaya itu bagian dari ritual guna meningkatkan ilmu Aji Pamepesan warisan buyutnya yang memang sudah turun-temurun dikenal sebagai keluarga penyabung ayam ulung. Berdasar garis keturunan seperti itu, tak heran anak lelakinya nanti akan memilih jalan hidupnya juga sebagai penyabung ayam.
Jalu, demikian nama anak itu. Dari namanya saja sudah bisa ditebak maksud sang bapak dalam memberi nama. Jalu berarti taji, tentu bapaknya ingin anaknya jadi senjata yang mematikan bagi keluarga kecil itu, gaman yang digadang-gadang bisa mengangkat mereka dari lumpur kemelaratan, meski tetap melalui kegemaran sabung ayam. Sehari-hari Jalu hanya tinggal bersama neneknya, Mbah Sri yang begitu penyabar. Bagaimana tidak, di usia yang tak bisa lagi dianggap produktif untuk bekerja, Mbah Sri masih harus mengumpulkan kayu bakar untuk menghidupi Jalu dan bapaknya yang pengangguran dan hanya mengandalkan kemampuan mengadu ayam. Mbah Sri adalah anomali di kampung ini. Ia pribadi yang bersahaja, ia taat beribadah, sembahyang tak pernah ditinggalkannya. Berkali-kali ia hanya bisa mendoakan agar tabiat kurang terpuji anak dan cucunya segera ditinggalkan. Sebab melarang mereka selalu percuma saja, kebengalan bapak-anak ini memang sudah mendarah-daging dari buyutnya. Cerita yang kudengar dari Mbah Sri, bakat Jalu dalam dunia sabung ayam memang sudah tampak. Sejak kecil Jalu sudah tahu cara memilih ayam aduan yang bagus kendati ia belum fasih bicara. Ayahnya punya banyak jenis ayam jago aduan dan mengajari kemampuan menyilangkan berbagai jenis ayam jago yang berpotensi juara. Mulai dari Naga Temurun, Wiring Kuning, Wiring Galih, dan Jalu Centel adalah beberapa jenis ayam andalannya yang bergantian mengantarkan Ayah Jalu dikenal sebagai sosok penyabung ayam termahsyur dan paling ditakuti di kampung, Jalu mewarisi kemampuan itu. Tetapi riwayat keluarga yang seperti itu tak membentuknya jadi sosok yang menyeramkan. Ia begitu baik, begitu hangat, ia yang melindungiku dari intaian preman kampung, ia yang paling tak terima jika aku diganggu anak-anak nakal.

**

“Sini Dar, tak ajarin ngelatih jago jawara!” ujar Jalu ramah.
Dengan enggan, kulangkahkan kaki mendekati Jalu. Sesungguhnya aku tak terlalu menyukai ini sebab bau khas ayam bercampur dengan tahi jelas tak membuat hidungku toleran. Aku berkali-kali menahan napas dan menjepit hidungku dengan jari. Ia berjongkok di depan kandang ayam sederhana yang dibuatnya sendiri dari pohon-pohon bambu yang tumbuh di kebun belakang rumahnya. Jalu memandikan ayam jago andalannya, si Pujo. Menurut Jalu, berdasar katuranggan, ayam ini disebut Wangkas Geni karena warna bulunya dominan merah-darah dan kelabu. Karena warna bulunya, aku seperti melihat darah mengental di sekujur tubuh Pujo yang seolah-olah tiada berkulit. Sorot matanya yang tajam mengawasiku menambah kesan seram si Pujo, seolah-olah aku adalah ayam jago kurang ajar yang siap mengusik ketentramannya. Sempat kubayangkan si Pujo ini jika marah akan berubah menjadi naga raksasa berjengger yang siap menyemburkan api maha panas dari paruhnya.
“Kamu tertarik sabung ayam? Kalau mau nanti aku kasih anakkan ayam jagoku satu. Bisa kamu pelihara, nanti bisa jadi lawan berlatih ayamku.” tanya Jalu.
“Ndak ah, aku takut dimarahi ibu.” tolakku halus.
“Hahaha, yasudah ndak papa. Memang tak sebaiknya kamu main beginian, Dar. Sudah kamu lihat saja.”
“Itu pakannya? Kenapa ada banyak macamnya?” tanyaku penasaran.
“Lho iya, namanya jawara, makanannya pun ndak bisa sembarangan. Kalau tak sedang bertanding biasanya cukup aku kasih beras merah atau jagung, tapi kalau mau tanding ya aku harus beli vitamin. Kadang juga aku kasih madu, asam jawa, pepaya. Sering juga, aku tak bisa makan karena uangku habis untuk beli pakan ayam segini banyak. Tapi itu aku anggap sebagai tirakat, bentuk prihatin, siapa tahu dengan prihatin dulu nantinya mereka menang dan bisa membuatku makan enak berhari-hari ke depan.” ujar Jalu sambil terkekeh mempertontonkan gigi-gigi kecilnya yang kekuningan. Aku yang mendengarnya hanya bisa tersenyum kecut.

***

Bayangan berpuluh-puluh pohon trembesi yang berbaris di kanan dan kiri jalan yang tak merelakan kepergianku dahulu seolah tak menyimpan dendam. Sekembalinya aku ke kampung ini, mereka tetap meneduhkan, mereka tetap menawarkan kesejukan seperti yang dahulu biasa buatku tertidur pulas di bawahnya setelah seharian bermain bersama Jalu. Sejujurnya, kampung ini hampir tak meninggalkan kenangan apa-apa bagiku jika bukan karena Jalu. Di kampung ini dahulu aku dilarang Bapak untuk bermain dengan teman seusiaku. Aku pun menurut saja. Aku memang anak yang tak terlalu suka bermain, lagi pula Bapak memang tegas dalam mendidikku. Tak jarang sapu melayang ke pantat jika aku melanggar aturannya. Sebelum mengenal Jalu, aku tak punya teman bermain di rumah. Sebab kata bapak, semua penduduk di kampung ini adalah penjahat. Bapak tak berlebihan, sebagian besar penduduk kampung ini memang benar-benar jahat atau dengan bahasa yang lebih sopan, akrab dengan hal yang tidak baik.
Jenis pekerjaan pun bermacam-macam. Kau bisa menemukan kemerosotan moral dalam kemasan apapun di sini. Pelacur, perampok, pembunuh bayaran, tukang jagal, bramacorah, bahkan penjudi. Jenis judinya pun bermacam-macam, mulai judi togel, judi bola, judi capjikia, hingga judi ayam aduan pun ada. Bapak sendiri bekerja di bank perkreditan rakyat. Alasan bapak ditempatkan di sini pun tak pernah ku ketahui. Tetapi untunglah selama 2 tahun itu aku tak mengalami apapun. Karena itulah aku sengaja menyembunyikan pertemananku dengan Jalu dari beliau, aku tak rela gagang sapu sering-sering menyantap pantatku.

**

Hari masih gelap ketika aku kembali akrab dengan suasana ini: jalanan becek kampung, sudut-sudut gelap tempat beberapa perempuan sundal menjajakan diri, bau ciu yang menyengat. Setibanya kembali di kampung ini aku bergegas memasuki sebuah rumah yang seperti tinggal menunggu waktu untuk dirobohkan angin kencang. Pria itu masih di depan kandang ayam kesayangannya. Aku sempat pangling dengan wajahnya, sebab ia kini memanjangkan rambut dan memelihara brewok. Tapi aku langsung mengenalinya karena bekas luka bakar yang melahap setengah kulit wajahnya itu.
Kulanuwun.”
“Monggo pinarak… lho, Darsa toh! Anak lanang! Mari-mari, masuk sini. Maaf kalau berantakan. Wah, kedatangan tamu agung dari kota.”
“Kamu ngomong apa toh Lu, sudah-sudah nyantai saja. Aku duduk di sini saja.” Jawabku sambil menjatuhkan tubuhku di kursi bambu di beranda rumahnya.
“Ada perlu apa, Dar?”
“Kangen kampung ini dan kamu, Lu! Eh, Gimana kabarmu dan Pujo?”
“Seperti yang kamu lihat, Dar. Aku baik. Cuma Pujo sudah jadi pemacek, sudah pensiun. Kalau dipaksa bertarung bisa encok! Lagipula sudah berkali-kali ngurak, kasihan. Tapi jangan kecewa, dia sudah mewariskan kehebatannya ke Songgobumi, anaknya. Tempo hari Mas Kasrun sampai menggadai kendaraannya buat bayar aku. Hahaha”
“Edyan! Kamu memang hebat. Aku ndak pernah ragu sama kemampuanmu, Lu! Eh, tapi kenapa dinamakan Songgobumi?”
“Lihat saja lehernya, dia ini jagoan tapi kalau tidur lehernya diselonjorkan sampai mau menyentuh tanah. Kayak menyangga bumi, gitu. Beban hidupnya seolah berat, kayak aku, tapi selalu berusaha bangkit!”
“Oalah, kamu ini bisa aja. Eh, ngomong-ngomong, mana Mbah Sri?”
“Beliau di kamar. Sekarang semuanya berubah, Dar. Ndak seperti dulu. Mbah Sri sakit keras. Biaya berobatnya mahal. Uang hasil sabung ayamku selalu kurang untuk menebus obat-obatannya. Asu buntung tenan! Aku ndak mau kehilangan Mbah Sri, Dar. Cuma Mbah Sri keluargaku, bapakku dipenjara karena dianggap berkomplot membunuh juragan kayu. Kayaknya demi Mbah Sri aku mau ikut Rohmat saja. Dia bandar capjikia sukses. Aku mau jadi pengepul. Jadi kalau tak sedang sabung ayam, aku bisa dapat duit dari capjikia. Pokoknya tak jauh-jauh dari judi, hahaha…”
Setelah cukup lama mengobrol aku pun berpamitan. Ada upacara apel pagi yang harus kuhadiri sebelum bertugas. Di perjalanan, ku keluarkan sebuah foto dua anak lelaki yang tersenyum bahagia. Foto aku bersama Jalu yang dipotret Bapak tepat sebelum aku meninggalkan kampung ini beberapa tahun lalu. Di saat itu pula untuk pertama kalinya Bapak tahu aku bersahabat karib dengan anak kampung di sini. Bapak tak bisa marah, tapi ia juga tak merasa kecolongan. Ia tahu Jalu anak yang berbeda. Kuusap beberapa bagian di foto yang mulai berdebu. Tiba-tiba saja obrolan singkat dengan Jalu tadi membuat mataku memerah.
 “Dalam hidup kau memang harus memilih. Ya kayak aku ini, aku tahu sabung ayam tak baik. Mbah Sri juga berkali-kali mengingatkan padaku agama melarangnya. Tapi aku nekat saja. Sebab menurutku sabung ayam tak sekadar berjudi, Dar. Aku menyukai sabung ayam karena mencitrakan semangat  hidup. Di arena sabung, ratusan kali aku melihat banyak ayam terkulai dan tubuhnya berdarah-darah hanya demi mempertahankan wibawanya, harga dirinya. Beratus-ratus kali pula aku disadarkan oleh ayam-ayam jago itu bahwa aku tak boleh nurut saja jika harga diriku diinjak-injak. Jangan mau menghamba pada penguasa yang tak mendengarkan nasib wong cilik, aku harus membela harga diriku dan keluargaku mati-matian. Kamu tahu aku ditinggal ibuku bahkan sebelum aku bisa mengingat wajahnya. Kamu tahu aku hidup menanggung malu karena luka bakar di wajahku. Lalu sekarang bapakku pembunuh. Kamu tahu kalau cuma sabung ayam yang bisa mengangkat martabatku, Dar…“
Kepalaku begitu pusing. Pandanganku meremang. Jalu tak tahu bahwa kini aku sudah jadi polisi dan ditugaskan ke kampung ini untuk menyelesaikan berbagai macam kejahatan mulai perampokan, pembunuhan, hingga penyakit masyarakat yang remeh-temeh mulai dari kebiasaan konsumsi miras, prostitusi, bahkan  judi ayam. Di malam-malam berikutnya ku mantapkan hati tak akan menjebloskan Jalu ke penjara. Aku tahu ini bukan tindakan terpuji. Tetapi mungkin ini saatnya aku balas budi, bahkan balas judi. Jalu tak boleh tahu jika aku lebih pemberani dari dirinya, karena yang kupertaruhkan karirku, demi pertemanan kami… (*)


Solo, April 2013




Catatan kaki:
[1] Cindelaras adalah tokoh dalam cerita rakyat yang dibuang dari istana dan hanya mempunyai harta seekor ayam jago. Berkat ayam jagonya, Cindelaras mengalahkan ayam jago Raden Putra yang pada akhirnya tahu bahwa Cindelaras adalah anaknya yang sempat dibuangnya sendiri ke hutan. Di akhir cerita Cindelaras kembali ke istana dan hidup bersama permaisuri.
[2] “Karepmu wae”: “terserah kamu saja” (dalam bahasa Jawa)
[3] Aji Pamepesan adalah ilmu/ ajian kuno yang masih dipercaya beberapa para penyabung ayam di tanah Jawa untuk mendapat kemenangan.
[4] Gaman: senjata, dalam bahasa Jawa.
[5] Katuranggan: ciri fisik. Katuranggan kemungkinan berasal dari kata katur” dan angga”, Katur di sini berarti “menyampaikan” dan angga berarti “badan”, secara bebas Katuranggan bisa diterjemahkan sebagai pengetahuan yang menyampaikan pengertian tentang bentuk bentuk badan. Dalam bahasa Belanda, dikenal dengan Exterieur; bentuk lahiriah bagian badan yang nampak di luar.
[6] Capjikia: permainan menebak satu kartu di antara 12 kartu yang ada, kartu di kelompokkan menjadi dua, yaitu hitam dan merah, sedangak angkanya mulai dari angka 1 sampai angka 6. Jenis judi yang cukup populer di Jawa.
[7] Ciu adalah sejenis minuman beralkohol yang dihasilkan dari proses fermentasi ketela pohon cair yang terbuang dalam proses pembuatan tapai. Minuman ini mengandung alkohol yang cukup tinggi dan efektif untuk membuat orang yang meminumnya mabuk. Ciu populer di beberapa daerah di Jawa.
[8] “Kulanuwun”: Permisi (dalam bahasa Jawa)
[9] “Monggo Pinarak”: Silakan duduk” (dalam bahasa Jawa)
[10] Pemacek: pejantan, ayam yang baru dijadikan pejantan setelah masa pensiun bertarung.
[11] Ngurak: Mabung, masa berganti bulu, fase yang wajar dalam hidup unggas. Biasanya 3-4 kali ngurak selama hidup.
[12] Wong cilik: Rakyat kecil (dalam bahasa Jawa).

4 comments:

  1. Cerpennya bagus. Keep writing ya! Ditunggu cerita berikutnya. :)

    ReplyDelete

  2. VIPQIUQIU99.COM AGEN JUDI DOMINO ONLINE TERPERCAYA DI INDONESIA

    Kami VIPQIUQIU99 AGEN JUDI DOMINO ONLINE TERPERCAYA DI INDONESIA mengadakan SEO Kontes atau Kontes SEO yang akan di mulai pada tanggal 20 Januari 2017 - 20 Mei 2017, dengan Total Hadiah Rp. 35.000.000,- Ikuti dan Daftarkan diri Anda untuk memenangkan dan ikut menguji kemampuan SEO Anda. Siapkan website terbaik Anda untuk mengikuti kontes ini. Buktikan bahwa Anda adalah Ahli SEO disini. Saat yang tepat untuk mengetest kemampuan SEOAnda dengan tidak sia-sia, hadiah kontes ini adalah Rp 35.000.000,-

    Tunggu apa lagi?
    Kontes SEO ini akan menggunaka kata kunci (Keyword) VIPQIUQIU99.COM AGEN JUDI DOMINO ONLINE TERPERCAYA DI INDONESIA Jika Anda cukup percaya akan kemampuan SEO Anda, silahkan daftarkan web terbaik Anda SEKARANG JUGA! Dan menangkan hadiah pertama Rp. 10.000.000. Keputusan untuk Pemenang Akan di tentukan dengan aturan kontes SEO yang dapat dilihat di halaman ini.

    Tunggu apa lagi? Ikuti kontes ini sekarang juga!

    CONTACT US
    - Phone : 85570931456
    - PIN BB : 2B48B175
    - SKYPE : VIPQIUQIU99
    - FACEBOOK: VIPQIUQIU99

    ReplyDelete