Cinta Mati Jarwo



Tanganku memerah karena terlalu kuat mengepal, otot-otot di tanganku seolah menebal. Sejak tadi kutahan bising yang berpusat di otak untuk tak lebih riuh dari suara kipas angin rongsok di ruangan ini.

“Dasar lelaki tak tahu diuntung! Sudah susah payah aku membelamu agar terlihat baik di depan orangtuaku! Tetapi apa balasmu? Aku memergoki perempuan itu keluar dari kosanmu pagi-pagi sekali. Apa penjelasanmu? Kamu mau bilang kalau kamu merasa bersalah karena sudah menidurinya semalam setelah kamu mengelabuiku dengan alasan berpamitan mau tidur cepat? Kenapa tanganmu terkepal seperti itu? Geram ya, mau menamparku? Silakan, lakukan saja, mas! Kenapa tak kau bunuh saja aku sekalian, biar puas?”

“Julia, kamu ngomong apa sih?! Dengar dulu penjelasanku!”

“Tai kucing dengan penjelasanmu! Simpan saja buat pelacur itu!"

**


Aku dibesarkan hanya oleh ayahku. Ibu meninggalkan kami sehari sebelum ulang tahunku yang kelima. Jadilah aku besar sonder kasih sayang seorang perempuan. Selama belasan tahun aku dipusingkan oleh banyak dugaan tentang alasan ibu pergi. Apakah ia sekarang hidup seorang diri dan sakit-sakitan, atau meninggal karena kecelakaan, atau malah sudah hidup enak karena dinikahi saudagar kaya raya. Aku selalu malas membayangkan dugaan yang terakhir. Paman dan orang-orang terdekatku bercerita bahwa dahulu, semenjak usaha warung makannya berkembang pesat, banyak saja musuh bisnis yang berulangkali berusaha menjegal ayahku. Cara mereka pun bermacam-macam caranya, ada yang menggunakan cara-cara kuno seperti menghasut para pelanggan, mengacaukan distribusi bahan baku, bahkan konon Darmanto, pemilik warung bakmi yang jadi sepi karena warung ayahku sampai mengusulkan pembangunan tempat pembuangan sampah di depan warung ayahku, apalagi kalau bukan agar busuk baunya mengacaukan selera makan para pelanggan di warung ayahku. Yang tak kalah ekstrim justru teror yang dimaksudkan untuk meruntuhkan mental ayahku. Pernah suatu sore di depan rumah ayahku ada paket kiriman yang ketika dibuka ibu ternyata berisi potongan kepala kambing lengkap dengan darah segar yang berceceran. Kontan saja ibu yang kaget segera menjatuhkannya ke lantai. Dan bekas darahnya yang amat kental tak begitu saja hilang dari lantai rumah kami. Tetapi dasar ayahku yang memang besar di keluarga militer, mentalnya tertempa begitu kuat. Segala teror dan intimidasi dianggapnya angin lalu saja. 

Puncak dari segala ketidaksukaan saingan bisnis ayahku tentulah sore itu. Tiba-tiba ayahku jatuh sakit setelah sebelumnya mengeluh hawa begitu dingin. Badannya menggigil, keringatnya menetes membasahi baju sebesar jagung. Tak lama mata ayah memutih seluruhnya dan tak sadarkan diri. Ia dibawa ke klinik terdekat dan dokter merujuknya untuk segera dipindahkan ke rumah sakit daerah agar bisa ditangani. Beberapa minggu ayah tak sadarkan diri, hingga suatu hari ia sadar, tetapi seluruh tubuhnya tak bisa digerakkan. Ia hanya mampu memutar bola matanya ke kiri dan ke kanan. Dan jantung yang berdenyut jadi satu-satunya penanda bahwa ayahku masih di dunia.

Jika filsuf sering mengandaikan bahwa manusia adalah binatang yang berpikir, maka ayahku adalah tumbuhan yang berpikir. Tanpa bermaksud lancang, aku menyebutnya seperti itu sebab ayahku terlalu memenuhi syarat sebagai seorang manusia jika hendak menyebutnya binatang, tetapi ia juga tak melengkapi syarat manusia dan binatang karena ia tiada bergerak. Maka aku menyebut beliau tumbuhanku, sering aku menganggapnya seperti bunga sepatu, tapi di lain waktu aku juga suka menganggapnya seperti pohon beringin yang tugasnya di dunia ini hanya meneduhkanku.

**

“Wo, tolong kamu segera ke Jalan Sudarmo 42. Ada panggilan ke sana.”
“Baik, Bu.”
“Jangan lupa juga hantarkan surat ini sebagai pengantar.”
“Iya, Bu. Segera.”

Tanpa menunggu lama aku segera memacu mobil bercat putih yang di beberapa bagian mulai mengelupas dan menyisakan karat kehitaman ini. Melalui monster berbadan tambun ini, aku mengantarkan kesedihan satu ke kesedihan lainnya. Aku begitu menikmati pekerjaan ini, sebab aku selalu bisa ikut merasakan simpati yang mendalam. Aku menikmati perasaan dinanti-nantikan sebuah keluarga, aku suka ada di tengah-tengah kedukaan yang begitu masygul. Setidaknya aku bisa merasakan rasanya dinantikan dan dicintai meski berselubung kedukaan yang begitu mendalam. Kadang-kadang aku seperti memasuki fase trans dan bisa berganti raga dengan mayat yang kuhantarkan. Aku bisa merasakan tubuhku dingin dan kaku, kosong dan dibelenggu kesepian yang teramat, namun begitu dicintai. Sudah empat tahun terakhir aku bekerja sebagai sopir ambulans ini. 

Ada begitu banyak mayat yang kuhantarkan setiap harinya. Ada yang mati karena kecelakaan lalu lintas, ada yang kepalanya pecah tergilas truk, ada yang lambungnya terburai akibat konflik keluarga, ada yang seluruh tubuhnya menguning karena sakit penyakit, ada yang tubuhnya sempurna tetapi lehernya berkalung lebam karena dicekik kekasihnya. Segala jenis mayat pernah kuhantarkan, tua-muda, besar-kecil, rupawan-buruk rupa, klien-klien tak bernyawaku ini lintas usia. Awalnya aku merasa begitu nelangsa dengan pekerjaanku ini. Ada banyak pekerjaan di dunia yang lebih menenangkan dan menyenangkan, tetapi aku memilih pekerjaan ini. Kalau bukan demi bertahan hidup, tak sudi aku harus melewati hari-hari dengan merinding setiap hari membayangkan hal-hal seram yang mungkin menimpaku. Aku selalu berpikir bahwa bisa saja mayat-mayat itu bangun dan mencekekku. Tetapi untunglah berbagai cerita seram dan teror bulu kuduk itu hanya aku saksikan di televisi. Tak sekali pun aku mengalaminya selama menjadi pengantar mayat-mayat itu. Yang paling menyenangkan adalah jika mengantarkan mayat gadis muda yang mati bunuh diri dengan gantung diri atau sakit keras. Tubuhnya masih bagus tiada bercela. Biasanya lebamnya hanya sedikit atau malah hampir-hampir tak ada. Apa ya, aku susah menggambarkannya. Orang awam menyebutnya ada perasaan iba yang timbul. Bukan, bukan, tetapi perasaan yang lebih lembut tetapi bermakna tegas, perasaan ingin memiliki dan berbagi kepedihan bersama. Bahkan aku seolah punya perasaan ingin merenggut kematiannya, jika memang tak pernah bisa memiliki hidup mereka. Kadang aku merasa senasib sepenanggungan dengan mayat-mayat ini. Begitu dicintai untuk beberapa saat kemudian dilupakan. Sebab tak jarang banyak keluarga yang tak lagi mengunjungi mereka di pemakaman dan jarang membersihkan rumah baka mereka. Keluarga-keluarga yang begitu sentimentil hanya tampak di beberapa hari selepas kematian salah satu anggota keluarganya lalu dengan enak saja melupakan. Mereka hidup dibuai kalimat-kalimat klise peneguhan tanpa sekalipun berniat merasakan kepedihan yang mendalam. Aku masih ingat rasanya, dicintai sedemikian rupa lalu diabaikan dan hampir-hampir dilupakan. Aku tahu rasanya kesepian dan hidup berkalang ketakutan. Aku mengerti perasaan mayat-mayat ini andaikata memang mereka masih punya perasaan, kendati perasaan mereka ikut dimatikan tepat ketika ragawi mereka mati.  Ya, barangkali aku tak hanya berempati, bisa kukatakan aku mencintai mereka. Aku cinta mati. Aku mencintai yang mati. Dan entah mengapa setiap mengurusi mayat perempuan-perempuan cantik yang bernasib naas itu selalu ada yang menegang di balik celanaku..

**

Langit berwarna kuning gading. Sinar matahari tak memancar sempurna ke bumi karena tertutup awan yang menggantung di langit sejak pagi. Ketenangan pagi ini terusik langkah-langkah cepat yang menandakan kegelisahan yang tak berirama. Julia, kekasihku, wajahnya merah padam. Penjelasan panjang lebarku tak digubrisnya. Ia berlari meninggalkanku tanpa memedulikan hujan yang mulai menderas. Jika sudah marah Julia memang susah dihentikan. Lututku selalu terasa lemas mendengar umpatannya, aku kecut nyali melihat tatapan matanya yang seperti siap memantik bara. Di jalan ia marah dan mengumpat berkali-kali, untunglah bunyi hujan sedikit mengaburkannya. Sekilas aku hanya mendengar seorang perempuan yang meracau dalam bahasa-bahasa yang tak kumengerti. Tetapi aku sangat menikmati saat-saat seperti ini. Aku tahu rasanya dicintai perempuan lagi meski berulangkali dikata-katai. Aku biarkan saja karena yang terpenting bagiku tetaplah diperhatikan. Aku senang melihat matanya semerah saga, aku senang memerhatikan airmata yang berkumpul di sudut sepasang matanya. Aku seperti melihat seringai ibu di sana. 

Tiba-tiba aku teringat punya sebilah parang yang kupersiapkan untuk membabat semak-semak yang cukup tinggi ketika aku mengantar satu mayat ke desa sebelah. Pikiranku berputar-putar jauh seperti menembus dunia yang tak ada di dunia yang aku tempati. Sesekali aku memejamkan mata, dalam gelap aku mampu melihat senyum lega Nabila, sepupuku yang tempo hari menginap di kosku untuk minta dicarikan pekerjaan di kota ini, ada kelegaan begitu cair yang mengisi relung dadaku. Aku membayangkan sesilau apa kilat parangku jika ia berhasil mendaratkan ciumannya di leher Julia. Aku membayangkan air mancur darah segar yang begitu kental dan kehitaman menyembur sepanjang hari. Tiba-tiba aku ingin bersetubuh dengan mayat Julia sebelum kuantarkan sendiri kepada keluarganya… (*)
               

Solo, 2013

1 comment:

  1. Halo, Saya Irham dari Greenpack.
    Untuk Anda yang pengusaha bakmie, saya ingin menawarkan Kemasan Makanan food grade yang sudah terbukti akan kualitasnya.

    ReplyDelete