Menyuarakan Panas

tak akan ku pungkiri, gendang telinga harus tetap mawas diri
kau berkelit setiap saat, menipu kesadaran di bawah duniaku
seolah tidurku tak kubangun dari serpih-serpih musim dingin
dan sepi mengalun, lebih lirih dari kibasan sayap seekor angsa.

tetapi untunglah ini bulan Desember, masa kebencian tak bisa mekar.
dan pengetahuan kita akan memulihkan dua pasang mata menyala
yang bertahun-tahun tak menjadi arang meski dibakar perseteruan.

sebab telah kupasang jebakan pada setiap kitab yang terbuka
agar seperangkat hukum-hukum langit juga tegak di atas bumi
sebab keadilan seperti daun yang mengambang di atas danau!

ya, untunglah ini bulan Desember, bulan yang mengingatkanku
bahwa dingin diriwayatkan jauh hari sebelum kelahiran panas,
kobaran demi kobaran tak akan mencapai beku isyaratmu.

sementara aku masih menahan gemetar, mengibaskan sunyi
yang membuat beku punggungku, sambil menggenggam
sebilah pisau yang hanya berjarak beberapa jari dari
kerongkonganmu. Ayo, tarik napas sepanas-panasnya!

No comments:

Post a Comment