Efrata

: d

Ketahuilah, Desember masih bikin keder.
Padahal tubuh terbalut berlapis-lapis tabir
yang terjalin dari rindu memar dan amar.
Duh, kota ini sejatinya sudah kian renta
tapi menolak disudahi, bak tukang pidato
putus asa karena massa berangsur pergi.
Malam yang larut kian buatku mengenang
ngenang hari lalu: Kota yang menolak
mengekalkan musim dingin. Kota berwarna
kehijauan tempat burung-burung menyekutu
dedaunan, sarang bagi anak-anak mereka.
Kota yang menahan perginya masa kecilku
dan menunda kedatangan masa tuaku.

Kau tumbuh di sana, bergelung dari satu
kekalutan ke kekalutan lain, meniti diri
dalam untaian nada-nada minor Serenade.
Sedangkan ketegaranmu masih menapak
ke puncak, memanjat ranting-ranting cahaya
dari kemalangan menuju kematangan baru.
Katamu ketegaran itu tangan seorang janda
yang menyucikan seluruh riwayatnya ketika
membasuh kaki Anak Manusia, yang menahan
wangi menguar dari semerbak musim-musim.
Kataku ketegaran itu langkah-langkah gusar
Yairus yang yakin kehidupan anaknya bisa
ditaklukkan asal tegar tengkuk dan tegak iman.

Hingga aku menyadari bahwa hidup hanya
pecahan-pecahan yang tak kunjung terangkai.
Barangkali kerentaan-kerentaan inilah yang
suatu saat melengkapkan kekosongan kita.
Demi dunia yang sudah terlanjur pesakitan
kuniatkan sedapat mungkin menempuhmu,
meski tak ada kepastian sembuh dari semu
: aku sedia diganjar jauhmu.


Semarang, 2013

No comments:

Post a Comment