Inersia

sebab jika kita pikirkan lagi,
percakapan-percakapan kita belum
penuh, bibir cawan seperti ingatan
yang begitu rawan, maka mengingatmu
sesungguhnya adalah caraku melupakan
sekaligus meluapkan engkau.

tetapi keheningan telah mengakar
dan punya buhulnya sendiri, maka
maafkanlah, jika isyarat tak kuartikan
seperti matahari memantul di sudut genis.

"aku inginkan, juga angankan,
ia yang piawai menyepuh kata-kata."
ucapmu dengan mata begitu bercahaya
dan membuat malam-malam menyerpih.

sebab jika kita pikirkan lagi,
celoteh dan kekeh kita telah rontok
bersama menyembulnya kepedihan
dari putih belulang di punggungmu,
maka bertahanlah, tetap bertuhanlah!

dunia akan menyembuhkan kita, janjiku.
kenangan itu ruam, tetapi ia akan rontok
seperti selundang pinang asal kesetiaan
tetap bergolak di masa-masa belia kita.

kau perlu tahu, di bawah kulit ari ini,
masih tersimpan berlapis-lapis bahasa,
yang akan hangatkan kita dari kematian!

"aku inginkan, juga angankan
ia yang pandai menyigi diamku."
maka kuturuti saja kehendakmu,
meski hingar bingar menumbuk
kesadaran dan terlepas bak melukut.

aku hanya ingin duduk denganmu
bertahun-tahun, menerjang sapuan
waktu, hingga sepi hijrah ke tubuh ini.

sebab jika kita pikirkan lagi,
pada akhirnya memang hanya
ketiadaan kata-kata lah yang
akan memenuhkan piala
dan meluapkan masa tua kita.


di sebuah rumah makan cepat saji
- Solo, 2013

No comments:

Post a Comment