Tungku

Aku menjerang laut dalam sebuah tungku.
Kupanaskan berjam-jam, kukipasi dengan layar kapal karam.
Kutambahkan sejumput rambut, beberapa iris ingatan,
dan sedikit aroma kulit terbakar. Ketika didih, ku hidangkan:
semangkuk memar bagi tubuh yang direndam demam.

Selalu saja begitu, selalu saja seperti itu.
Hingga suatu malam, aku tak mampu memasak lagi.

Lalu laut menjerang aku dalam sebuah tungku.
Ia bubuhkan senarai ombak, juga sesiung karang.
Yang bergolak dalam tubuhku menyantapnya,
sambil mengunyah enyah, ia bandingkan,
garam siapa yang lebih cepat diendapkan,
garam siapa yang lebih menegaskan asin:
airlaut atau airmataku.


Cemara Kecil, 2013

No comments:

Post a Comment