Tiba

"kepalamu melongok
ke jendela yang mana?"

setiap peradaban silih berganti
pulang pergi, menggali menggapai,
angin memeristiwa dalam rusukku
dalam bilah tubuhku, mengurai bisik
dari patahan kita yang gagal tertelisik
suaranya sedikit sengau, menghempas
dan menyihir kering dahan ranting enau.

hujan menanak garis nasib seperti
serabut bakau menopang tanah paya
aku menyigimu ketika kalender belum
menyobek lebam tubuhnya dari upaya

"kakimu melangkah
ke pintu yang mana?"

paras murung lebih dari sewindu
tak lagi elok, sebab tangis melesat
bak anak peluru, menanggung rindu.
maka tak penting lagi apakah kepalamu
atau kakimu yang mendedah penantian,
jalan terjal ini, akan tetap menulis sajak
dari mencuri derap langkah sepatuku.

gamang dan cemas berkejaran
meski yang bergegas dalam diriku
tak juga tiba di perhentian yang kau.

Solo, 2013

No comments:

Post a Comment