Reruntuhan Hutan

Sejak hutan tak menyisakan bayang-bayang
kau akan menyadari ada yang ditinggalkan
oleh embun yang susut di kening pendoa
ketulusan seperti tumbuh di tengah padang
yang tak memberinya kesempatan berdaun
seperti ketika sebongkah lumpur di hulu
tercerai dari akar tumbuhan rumah para
peri sungai. ketika sajak ini kian cerlang
kian terang kau akan memecah selubung
kaca yang pernah jadi gaun di tubuhmu
seperti ratusan orang yang memandangi
piagam Hammurabi di Louvre tanpa sadar
dalam tubuh mereka kata-kata memahat
diri ke dalam hukum-hukum dan aturan
terpancang ke luar dan ke dalam membuat
Tuhan tak pernah bisa bebas bergerak
sama halnya jika tukang batu dipancung
karena salah menaksir pondasi tanpa
boleh membangun sesal pada Shamash.
Yang bergetar di balik punggungmu itu
aku duga tengkalak yang ditambatkan
tanpa ada satu pun ikan terpukau umpan,
sebab hujan turun seperti orang berparang
menanti tuaian dari kebekuan nasib sendiri
ia menyapu yang tersisa dari hutan tanpa
bayang-bayang yang rupanya tumbuh di
kepalamu, membaurkan pembatas antara
remang dan khusuk sembahyang, melihat
hujan menimpa tubuhmu tak lebih seperti
melihat reruntuhan jatuh di atas reruntuhan.


Solo, 2013

No comments:

Post a Comment