Air Laut Yang Menerpa Wajah Kita

Apakah air laut yang menerpa sisi wajahku ini 
adalah air laut yang menerpa wajahmu dahulu?

Begitulah, aku tak bisa membaca ombak di sini
sebab abjad-abjad dalam tubuhnya adalah murni,
sementara kesadaran berbahasaku sudah cemar,
ia kumpulan pelbagai cerita usang dan kecabulan.
Dalam tubuhku tinggal penyihir, yang memantrai
kata dengan bangkai, yang menyitir rapalan kuno,
menerakan tulah kemarau, mematikan rona hijau
daun angsana yang mekar di kening para santo.

Tetapi aku juga membatasi diri, enggan didikte,
meski abjad-abjad dalam tubuhnya masih putih,
sebab seperti pilar-pilar cahaya dari sebuah kota
yang tak dibangun dengan darah dan barah,
kesadaran yang dipunyainya tak pernah jadi kuk,
tak pernah menyangga kelumpuhan dalam diriku.

Apakah air laut yang menerpa sisi wajahku ini 
adalah air laut yang menerpa wajahmu dahulu?

Begitulah, aku tak bisa membaca ombak di sini.
Aku hanya bisa menerka-nerka, menakar-nakar,
hanya menggariskan prasangka, hanya menyentuh
bayang di dedaunan tanpa bisa menembus akar.
Aku seperti pemahat yang malah mematung
ketika seorang pertapa memberitahunya bahwa
kesendirian adalah sebuah ihwal, ia bebatuan
paling keras, tak bisa dibentuk menjadi apa pun.
Maka pertapa itu membiarkan dirinya cair saja,
ia leleh dalam lelah orang kota yang gagal bedakan:
mana dengus napas dan mana dengus bahasa.

Bahwa kesendirian hanya bisa dikawal,
hanya bisa disuluhi, seperti dua arus yang berlari,
membawa dingin dan hangat pada suhu tubuhmu,
tanpa pernah bisa membuat tubuh itu meriang
dengan riang, karena dipusingkan pertanyaan:
mana yang lebur dalam bayang-bayang,
mana yang luber dalam sembahyang.

(Tak soal air laut mana yang menerpa sisi wajahku,
setidaknya ia peram pertanyaan dan keraguanku,
soal air laut mana, yang menerpa wajahmu dahulu.)

Ujung Gelam, 2013

No comments:

Post a Comment