Pernah Dulu di Negeriku

Pernah dulu di negeriku
tanahnya tumbuh bertunas-tunas sajak
para pertapa bertelanjang kaki mendaki
bentangan gunung-gunung kesadaran.

Pernah dulu di negeriku
sepi bercokol di pasar-pasar tradisional
berbaur bersama amis ikan dan kenangan
hanyut dalam aliran limbah dan serapah.

Tetapi zaman sudah berubah
sepi sudah jadi komoditas laris.
Ia diperjual-dagangkan di mana saja
jadi gaun mewah berhias permata
para penyair yang menyapukan kata-kata
di bibir dari merah gincu dan cemburu.
Kini sebentar berselimut senyap saja
nikmat oh sungguh nikmat tiada tara.

Tubuh ini sejatinya
pun penuh dengan
semak-semak percakapan.
Demi sebuah kesadaran
harus disiangi,
harus digali
jauh ke dalam diri.

Maka menyepi lebih terasa
seperti memulangkan diri
yang terlalu lama mengembara
di belantara nama-nama.

Semarang, 2013

No comments:

Post a Comment