Malam Ini Aku Mendengar Keroncong

Malam ini
aku mendengar keroncong, dek.
Dihelat di Balaikota, merdu tiada tara.
Dedaunan berlenggak-lenggok manja.
Ranting-ranting menghentak sukma.

Satu persatu lagu dimainkan,
flute, ukulele, kontra bass bersahutan.
Suara biola menyayat rahim dunia.
Pecahlah buih-buih nada di lautan,
menyegarkan kembali wajah lesu
pelayar-pelayar Portugis yang
bertahun-tahun digaramkan kenangan.
Demi berton-ton rempah,
dan kesendirian yang menujah.

Kerlap-kerlip sorot lampu menembus
sudut-sudut tergelap batin manusia.
Hanya sisakan kerelaan dan kerelaan.
Sebab bukankah hidup ialah riwayat
perbudakan oleh kepentingan-kepentingan,
dan seni yang lahir adalah penebusan?

Ada seniman dan pekerja pulang lembur,
Orang tua, muda-mudi hingga pramuria
semua sujud dalam satu agama purba:
nada-nada yang sudah merdeka.

Dan keroncong tetap mengalun,
membuat pedagang asongan dan
tukang becak terkantuk-tertegun.
Setengah sadar mereka menerka
perihal nada-nada sumbang
yang saban hari dimainkan.
Mereka tak sepiawai musikus
mereka tak sesuci para mistikus
tapi mereka nada permulaan
bagi siapa saja yang mencari
dan menggali hidup yang harmoni.

Keroncong adalah potret gairah,
letupan-letupan nafsu yang tak
kunjung guyah meski subuh
mulai meniti ke dalam diri.

Dan keroncong tetap mengalun,
Semua insan manggut-manggut,
semua kaum terkantuk-kantuk.
Dalam hati berdendang riang,
dalam jiwa ada yang berdiang.

Malam ini aku memang
mendengar keroncong, dek.
Tapi mendengar tak sama
artinya dengan meresapi.
Telingaku tak lihai berpura-pura,
selamat tinggalmu masih membius.
Yang bisa kudengar cuma sepi
ia terdengar begitu melodius..

Solo, 2013

No comments:

Post a Comment