Kubur Batu

: kinanthi

setelah penghabisan jalan ini, bisa kau lihat lumpur tak
mengidap tapak kaki, kuku-kuku hantu bajang menggeragau
waktu, mencabik igau yang terlalu, yang kontan tergegau
ketika saja lampu dian dipadamkan induk semang kami.

sendengkan lah telingamu di dekatku, kami hanya bujang
yang kelewat senang ketika dua ikat tebu kau cucukkan
ke lidah, mengukir rembang moyang acap menari-nari
dengan garis wajah sekaku rimbat, melintang-menjelang
nyali awak geladak yang menyalin amar dari laut cemar.

setelah penghabisan jalan ini, kami bujang akan pergi
berupaya menampik kutukan orang-orang seberang
bahwa kedunguan akan menyala di pelipis kami,
bahwa kumpulan hadis dan sejumlah kudis
menyumbat lubang tubuh tempat udara
berdiang dan terbakar sampai pagi.

kami kan buktikan tanah berkubah ini
tak menyisakan ruang tuk sepi rebah
hanya saja kau harus lepaskan kami,
kau harus lesapkan kami,

maafkan tubuh yang hanya
asap dari nyala sapamu.

Semarang, 2013

No comments:

Post a Comment