Buah Naga

Tentu kau sudah tahu kenikmatan buah merah semu ungu itu, semenjak kubeli sebanyak tiga kilogram dari Wak Murdah setiap orang di kampungku memandanginya dengan keheranan: jangan-jangan ia telur binatang purba yang disarikan dalam igauan orang di negeri Timur jauh, jangan-jangan mitos adalah rancang-bangun dari kesadaran yang tak utuh. Tentu kau sudah tahu apa efeknya bagi tubuhku. Di pangkal lidahku lahir perawi yang meriwayatkan dahaga secermat mereka menanam ayat suci di tubuh pemuka-pemuka agama, mengalirkan bayang-bayang ke ceruk-ceruk asing tak bernama. Daging buahnya menggasak penampang leherku dan terbagilah luka menjadi sama besarnya: separuh untuk apa yang tertelan masuk ke lambung, sebagian untuk dimuntahkan sebagai pengingat bahwa hal-hal yang terlalu manis akan membuatmu limbung. Dalam hitungan kurun ke kurun, dalam liar lidah-lidah yang terus berhimpun, ku gugut saban hari ku gugut, hingga darah dan warna daging buah menyatu, ku kunyah tiada letih ku kunyah, hingga kesakitan seakan enyah dan membentengi kelemahanku seperti sisik kuning yang menyala itu: ia cerlang yang terpancar dari isak tangismu!

Semarang, 2013

No comments:

Post a Comment