Ulah Maut

Di suatu malam, aku perhatikan ulah maut.
ia begitu purba bak lemak amis pada tubuh
tujuh lembu kurus yang memakan lembu
gemuk dalam tujuh tahun kekeringan.
sesungguhnya ia bulir padi buruk yang
melumat bulir yang bernas dan baik
dan meniadakan tujuh tahun kelimpahan.
Tetapi di malam lain, ia begitu kau kenali
seperti puting susu ibumu yang tak pernah
jauh dari mulut mungilmu ketika bayi.
Lakunya hangat seolah ia baru saja keluar
dari dalam pendiangan dan menjauhkanmu
dari gigil waktu. Adakah doa ikut memuai
juga jika kautempatkan arang di dahimu?
Lalu kau terjaga karena kecupan-kecupan
embun yang terasa sebagai suatu urapan.
"kita telah sembuh dari senyap!
kini kita tinggal bangkit dari lenyap!"

No comments:

Post a Comment