Jamuan

Daun-daun leka kena sakal angin timur.
Cuaca tak bagus tetapi ia nekat saja
menuju tempat yang tertera di surat
yang ditemukan di makam ibunya.

"Masuklah, kita mulai perjamuannya."
kata tuan rumah yang sudah menunggunya.
Pondok itu tak terlalu besar memang.
Hanya sebuah meja kayu yang memuat
duabelas pinggan dan duabelas cawan.

Pemuda itu lalu menuangkan anggur pada
cawan sang tuan rumah. Mereka makan
dengan lahapnya. Mereka begitu menghayati
malam penuh limpahan syukur itu. Setelah
kenyang pemuda itu berpamitan pulang.
Ia berterimakasih kepada tuan rumah
dan berjanji akan mengunjunginya lagi.

Di jalan ia bayangkan wajah ibunya.
Ia mampir sebentar di rumah ibadah
untuk membasuh pisau agar tak ada
lagi sisa darah ibunya di ujung pisau.

Solo, 2013

No comments:

Post a Comment