Tenung

kita tak pernah sabar mengasah kepekaan
sebab dunia yang lembam menumpulkannya.

kulit pohon ratusan tahun mengajarkan
tak setiap keindahan harus diberi tanggal,
coretan kasar, maupun catatan penjelas
-- biarlah kepala yang dasarnya pelupa
membelesakkan diri dalam tebal mantelnya,
ia hanya berlindung dari intaian mendung.

jika cuaca kembali cerah, berlayarlah
laut ini cair dari kebekuan bulan Juli,
kepala tiap perenung kan mengapung
dihanyut gelombang-gelombang tenung.

Solo, 2013

No comments:

Post a Comment