Hujatan Bulan Juni

: sapardi djoko damono

kenapa ya, aku tak tergila-gila dalam
rinaimu lagi? ya kenapa tak ku cari
apa yang mungkin jatuh di pipinya?

tetapi lidahnya api, juga, batuk rejan
jadi belukar antara percakapan kami.
aku mendengar sengal napas langit
lebur dalam perdebatan amat sengit.

perempuan itu tak menyukai hujan,
ia pun tak peduli kebesaran namamu.
setangkai puisimu dibiarkannya layu.
lidahku mendingin, tak dibakar cumbu.

sepanjang kauman hingga kalitan,
ku susuri pohon mana yang berbunga
siapa tahu bisa ku curi sedikit rindunya.
sebab tanah masih basah tak bertutur,
hujan semalaman buat canggung kultur.

perempuan itu tak menyukai hujan,
ia pun tak peduli kebesaran namamu.
hujan tak meninggalkan seberkas pun
kearifan dan ketabahan di jalan-jalan.

kenapa ya, aku tak tergila-gila dalam
derasmu lagi? ya kenapa, kenapa aku
harus peduli sebijak apa hujan bulan ini?

lupakan aku, aku tak bisa lagi kau tipu.
lelaki tua dengan sekotak hujan bukan
sosok yang bisa bersemi di ingatanku.

kau tak perlu menghujaniku, sapardi
bagiku panas terik jauh lebih puitis.

Solo, 2013

No comments:

Post a Comment