Di Sriwedari

Langit pecah, jarum-jarum hujan berjatuhan di bantal tanah.
Bulu-bulu kesedihan berhamburan memutihkan matahari.
Perempuan tua nekat menjajakan rokok dan makanan
seolah-olah dalam badai ia pun bisa menjual kenangan.

Bukankah kau pernah berkata luka tiada empunya?
Tetapi dari balik matanya kota-kota seperti anak kecil
yang berlarian ingin menjajal semua wahana permainan.
Ada yang berjungkat-jungkit di bibir sunyi, ada yang
menutup mata dan tragedi-tragedi lari bersembunyi.

Tetapi di kakinya kehidupan sulit menyamakan irama
di kakinya suara gendang dan tambur seperti alunan
yang mengiringi sunyi mencari jati dirinya sendiri.
jauh di dalam pikirannya, ada kemabukkan yang berlari.
jauh di dalam pikirannya, luka tersungkur mengiba.

Solo, 2013

No comments:

Post a Comment