Di Kamar Mandi

Di ruang ini, hilanglah bayang-bayang. Aku basuh cemar
dengan sesiram sembahyang. Luruhlah daki, luruhlah diri:
sumbat hidup dan mati. Tak ada lagi yang harus ditutupi.
Jauh dari lumpur dan licin waktu, juga keinginan merindu.

Aku benar-benar mencintai momen sakral ini. Hidup dalam
dunia yang semuanya tercipta dari air. Kota yang tersusun
dari gigil, ladang-ladang busa, dan tiang listrik dari pasta gigi.

Di ruang ini, tak ada yang membatasiku. Aku sering menerka
warna apa saja yang terbias dari basah rambutmu, aku juga
kerap menyamarkan tangis, sebab tak ada yang harus ditutupi.

Di ruang ini, hilanglah bayang-bayang, sebab mandi juga semadi,
proses menghilangkan dan menemukan sebelum beranjak pergi.
Sebab sekali membilas diri, aku tak kan bisa menolak panas-Mu.

Semarang, 2013


No comments:

Post a Comment