Sekam

1.
sawah pitak-pitak,
nasib berkali-kali diayak.

sedang ingatan, sebuah alu,
piawai menumbuk masa lalu.

di sinilah, kami ditawan
lepas dari jiwa yang rawan.

larikan diri, dari nukilan nyeri
mengering di bibir kemarau.

2.
sia-sia saja, menanam malam
di pematang mata yang temaram.

tubuh yang bermandikan pestisida
tak akan hasilkan cinta yang segar!

o, geliat belut di genang lumpur
selicin nasib, jibaku, saling sikut
sebelum dikuliti takabur, terkubur.

kenapa tak, kau tak, dongengkan
kelompok tani, soal riwayat ani-ani?


3.

kilau lampu di muka surau, hanya
mengasapi usia, silaukan lampau.

betapa mereka, hanya peduli
membakar jiwa gelimang arang
yang hangus, licik mereka karang!

berkali-kali telah ku peringatkan,
jangan melulu mengasapi usiamu
sebab yang berasap, yang lindap
di tubuh kami ini, sesungguhnya

tubuh puisi.


Solo, 2013

No comments:

Post a Comment