Gurun Pertobatan

Aku mulai membaca lagi. Membaca sungai-sungai, menelaah gelap hutan. Seketika aku berada di ketinggian, terhuyung-huyung. Di semesta pandangku, kulihat orang-orang dari berbagai belahan dunia, berduyun-duyun, membopong percakapan-percakapan, memanggul catatan peristiwa yang semula disemayamkan di keningku. Keabadian seakan larut dalam tempayan anggur, meruapkan putih kenangan seperti buih-buih. Sunyi terpekur, ia tersesat di antara bermacam-macam dirinya. Langit runtuh. Menimpa pilar-pilar tembaga tabernakel. Tabut perjanjian terkoyak, gagasan dan ide boyak. Dunia seperti sebuah almari raksasa dan rahasia antar manusia tersimpan rapat di dalam laci, prasangka dan tekanan membuatnya terkunci. Lembah-lembah yang ganjil, tebing-tebing rawan, membuatku hilang pijakan di tanah bahasa. Engkau bisa saja lari bersama saudagar dari Samaria, menyusui dan membesarkan anak-anak yang punggungnya jadi konstruksi negara. Sementara aku sibuk berputar-putar di padang gurunku sendiri. Kutanggalkan kasut, kukoyak baju dari linen rajut. Minyak narwastu milikmu membuat ingatanku seperti penambang yang lupa mengekalkan kebekuan pada batu-batu galena. Peradaban tinggal belulang, waktu membangun makam bagi dirinya. Jutaan jasad renik mengurai segala keterlanjuran, mengubur kedegilan hati kita dalam-dalam. Tak ada lagi ranji bagi tubuh yang lebam. Dirikan, dirikan lah sendiri matzebah, agar ingatanmu tak perlu bertanya pada orang-orang Lewi, perkara siapa yang seharusnya mendedah tabah.

Solo, 2013

No comments:

Post a Comment