Asali

menjauh darimu ya asali, seperti seorang tuli
memaksa langkahkan kaki bercemar duli.
sebab kuali tak lagi berkerak manis tengguli
hanya ingatan-ingatan rawan, sengar khayali.
jika nanti yang tersisa hanya merah jasadi,
aku bisa ciumi kuning kening bekas sajadah.
laku-laku tak gapah, hanya beralas terompah
menuju rumah ibadah, tak menadah madah.

tetapi oh, bukankah puja-puji berbunga
adalah kuncup paling kecup bagi telinga?

menjauh darimu ya asali, seperti mengiris pelipis
dan berharap mendapati kematian sesegar nipis.
meniris sari-sari liris daging jantung yang tipis
padahal yang sempat berdenyut telah terlepas
dan ikut hanyut bersama riak-riak tak tandas.

tetapi oh, bukankah harus kita kaji lagi
dahaga yang tak menemu telaganya?

menjauh darimu ya asali, seperti
usaha meremukkan diri kembali.
ingatan kan aus, tubuh akan haus
rindu terbasuh firdaus.

Solo, 2013

No comments:

Post a Comment