Antidot

Kami melanglang di rimba tubuh yang sekian lama diguyur racun seluruh, setelah cuap-cuap pemerataan dan kesejahteraan hanyut tersapu sumpah serapah di sungai darah. Di jalan lengang ini tak ada akses bagi para pencari warta sebab lumpur barah telah semata kaki ekses banjir nestapa berabad-abad lamanya. Tak ada siaran radio ataupun saluran televisi, tak ada berita seputar derita kami, hanya asupan fatwa-fatwa alim ulama yang pada akhirnya mengendap di limpa dan jadi tinja.

Hanya karat rangka sepeda jengki buruh-buruh pabrik yang masih setia jadi saksi gesitnya mereka menghindari lubang jika pagi dan liang jika petang akibat lindasan monster-monster bersisik dosa dalam selubung truk-truk muatan yang menghamba pada cukong dan pemerintah yang lebih mirip lintah. Tak ada yang benar-benar melegakan di jalan ini sebab pohon pun telah ditumbuhi wajah-wajah berpeci bangkai demokrasi yang membuat pohon-pohon itu kerap menangis di malam hari akibat dituduh tak lagi mampu mengejawantahkan teduh.

Kami hanya sinergi nangka muda, beberapa siung bawang, dan serai dalam semangkuk gulai, bersitabik pada jemari ibu yang lihai meracik bumbu dan rajin menyiangi mimpi kami yang terlalu tinggi tanpa lalai. Kami leleh dalam langit-langit mulut yang lelah menggasak gaplek atau bungkil kelapa, kami penyatuan kenang dan kekang yang bergantian mengoplos badan rentamu. Kami bau ban terbakar yang asapnya mencekat kerongkongan anak negeri yang tak bisa lagi tidur siang setelah kutukanmu berjelaga di bantal mereka. Sadur amarah ini ke klinik-klinik terdekat dan minta yang bertugas di sana untuk tak lupa membuatkan resep dan menerakan nama pasien yang tak kunjung waras itu: wakil-wakil yang terpaksa kau pilih meski tak kunjung buat traumamu pulih.

(2013)

1 comment:

  1. fix. saya ngefans sama kamu.

    btw, kamu pacaran sama orang yang tepat. walaupun saya hanya mengenalnya kalimat di blog. seperti saya mengenal kamu.

    salam keren :)

    ReplyDelete