Kepada Insan Instan

Di pagi yang basah,
Langit tampak sirah,
Ranjangku adalah limbah.
Segala limbah tumpah-meruah
o, semesta sampah.

Besi berkarat, plastik daur ulang
rafia, kardus, dan perkakas usang.
Setiap mereka mempunyai mulut
yang serempak mengecam-menuntut:

"Tak sebaiknya kau lupakan kami.
Sebab kau bisa menulis karena
kami lebih dulu meriwayatkanmu.
Tak sebaiknya kau lupakan kami.
Sebab kami yang didaur ulang ini
juga pelajaran bagi kau yang fana:
hidup hanya perihal ritus dan siklus,
berani terbuang atau bulat berpulang.

"Dan yang terpenting, lagi tergenting:
Jika kau selalu memuisikan manusia
dengan segala kehidupan cintanya,
kau tak akan bisa memanusiakan puisi
dengan segala cintanya pada kehidupan."

(2013)

No comments:

Post a Comment