Hapus?

Aku menantang diriku sendiri malam ini,
Kata-katanya tiada sekalipun kuhapus
ujud tanda penghargaan untuknya.

Jika selama ini aku akrab dengan puisi
untuk itulah aku menyadari apa itu isi.
Guna menghargai setiap kata per kata
Aku coba tahan diri tak menghapusnya.

Tak ada yang harus disesali memang.
Aku dan kau yang sebatas remang,
kita dan kata berbusanakan gamang.

Bayang-bayang pohon yang menggigil,
isyarat dingin yang menusuk relung iga.
Sepasang sepatu yang mencuri dengar:
aku gagal menjaketkan tubuhku ke tubuhmu.

Mengapa kau tampik hangat tubuhku
entah apa kau sudah nyaman dengan enyah.
Ngilu seperti orang-orang bersarung,
geliatnya membuatku harus waspada
hanya untuk amankan harta tak seberapa.
Ataukah memang harus aku lepas saja
penjelajahan yang makan waktu berhari-hari
untuk kembali menjalani gaya hidup
serba nikmat sebelum mengenal kau.

Kali ini aku memang tak menghapus kata-kata,
aku biarkan ia polos saja dan miskin tipu daya:
untuk menghargai kejujurannya dan kau.


-------------------------------------------------

*Catatan:
Spontanitas. Kata itulah yang terbayang di benak saya ketika hendak menulis puisi ini. Spontanitas seperti barang mewah yang jarang bisa dibeli oleh saya dan banyak penyair akhir-akhir ini. Kami dan puisi seolah berlomba-lomba merias diri untuk tampil seanggun-anggunnya di hadapan pembaca, padahal yang lugu, yang polos, yang jujur adalah unsur yang kerap menampilkan sisi paling cantik dari puisi. Kami sering menimbang puisi dan kata-kata dengan teliti padahal tindakan itu justru membuatnya hilang bobot, hilang makna. Puisi sering diberi tempat terlalu tinggi sehingga yang awam enggan menjangkaunya. Puisi yang sifatnya begitu cair seolah-olah memadat dan malah menjadi sekat padahal seharusnya ia mencairkan kebekuan. Kami tak sadar bahwa tepat ketika melahirkan puisi kami juga harus mau menandatangani surat kematian bagi diri kami sendiri. Dan yang lebih memalukan, kami yang rajin menyuarakan kebebasan berkarya menempatkan slogan kami jadi sebatas demagogi, dan tanpa disadari kami telah menjadi puritan dengan cara kami masing-masing, kami tak memberikan ruang bagi cacat-cela untuk bisa ikut menikmati dan bersenang-senang melalui puisi. Kami tak sadar bahwa ketidaksempurnaan juga adalah bahan baku untuk membuat puisi tetap liat dan tak lekang oleh waktu.

Jika dibaca, puisi di atas memang tak beraturan dan tak mempunyai korelasi antara satu dan lain barisnya, dan saya sengaja membiarkannya. Tetapi sesungguhnya puisi ini tak benar-benar spontan karena saya sudah lebih dahulu memikirkan bagaimana menikmatinya dengan cara lain, untuk berjaga kalau-kalau kamu yang kumaksudkan dalam puisi ini berminat membacanya seperti ini: bacalah menurun hanya huruf pertama di tiap barisnya. 

Puisi di atas juga sebagai ucapan terima kasih sekaligus permintaan maaf atas tingkah saya yang sering salah kaprah memperlakukan puisi dan pembaca.

(2013, AI)

3 comments:

  1. mendekati aksara dgn kesan pertama ala fenomenologi itu sebenarnya hampir tak pernah bisa.. aksara selalu memiliki perbedaan dengan cerapan benda. karena itu, 'spontanitas' dalam puisi hampir tak ada, kecuali dalam umpat, caci, atau igau.. barangkali.

    ReplyDelete
  2. "aku juga tak bisa menghapus kau"

    ReplyDelete
  3. Spontanitas dan kejujuran memang menjadi sesuatu yang sangat berharga dalam menghasilkan karya cipta berupa puisi. Tapi keinginan untuk menyampaikannya dalam bentuk yang juga dapat dinikmati oleh orang lain, lebih lagi dapat dirasakan oleh orang lain, itu menjadi bagian penting. Menali-nalikan rasa yang ada.
    Kadang aku berfikir, berkarya seni itu adalah menyambung rasa. :)

    ReplyDelete