Abu Gaharu

Kutemu pada tubuhmu gaharu,
sisa kerinduan yang tak terlalu baru.
Sepi masih bergumul di balik sprei.
Hanya bising gonggongan anjing,
yang dengusnya disarikan malam
ke botol-botol parfum kekasihmu.

Kota ini tak berubah, kekasihku.
Masih ruwet dan selalu bikin senewen.
Jalan-jalan berlubang dan derita yang
beralih-wajah jadi gedung bertingkat.
Tak ada yang tersisa, bahasa terasa basa.
Kebisuan ini surat kematian tak bermeterai.
Bernapas di sini buatku tak tahu lagi
mana bau limbah mana aroma keringat
yang mengaliri leher berkalung barah.
Taman tak pernah lagi meneduhkanku,
di bangkunya seperti ada ceceran nanah
dari pantat pezinah dan bromocorah.

Kota ini tak juga berbenah, kekasihku.
Ia masih sepisau duri bagi tungkaiku,
ia masih geligi gergaji bagi lidahku.
Bagian tubuhku tak kedap lukamu.
Setiap hari senantiasa aku berdoa:
di sepasang alismu yang gelap itu,
akan tumbuh pepohonan korek api
yang membakar kita bersamaan.

Jadilah saksi penyucian ini, kekasihku.
Lima saka menjulang berlaras korintia.
Kesemuanya pilar, mengular alur nalar.
Dendam akan kita pantik terakhir kali.

Aku akan jadi abu, kau pun jadi abu.
Hanya bedanya kau semerbak aku tidak.
Abumu akan terkumpul tapi abuku terserak.
Aku akan jadi abu, kau pun jadi abu.
Hingga kita masing-masing tak lagi tahu
apakah merasa nelangsa masih tabu.
Maka kuucapkan, sebelum aku tinggal haru:

"Selamat rabu abu paling sendu, kekasihku.
Yang tertoreh di keningmu, dulunya bibirku."

(2013)

No comments:

Post a Comment