Palung Batin

Hujan mendudukkan
malam di singgasananya.
Sepi mendingin dalam
suhu gagang-gagang pintu.

Tak ada lagi tempat
hanya ruang-ruang umpat.
Hanya jerami dan bau tahi.
dan penolakan tak tersudahi.

Aku dan kau adalah pendosa
yang hanya punya palungan
bagi bersih ampunan.

"Bisakah Aku kali ini
lahir di hatimu?"

"Lahirlah di sana,
meski tak bersih."
"Tinggallah selamanya,
meski kadang Kau tersisih."
Jawabku masih dalam
remang malu yang khusyu.

No comments:

Post a Comment