Rayap

Terlebih hujan, semarak kehidupan. Rinai tak ricik sebab tak mengenali tubuh yang pernah digigilkannya. Bukan lagi ranting, lengan peradaban. Patahan tak berdenting di telinga yang hampir tuli sebab dengung pedihnya.  Setelah bukan lagi kayu jabon dan sengon, kawananmu seperti buruh migran, berniat kabur dan terbang untuk sesegera mungkin mendiami lahan pemekaran, meladang dengan bekal pesangon.

Maka untuk yang terakhir sebelum kau dan kolonimu angkat kaki: robohkan saja! terutama pada dinding-dinding pikir, juga perabot dan laci yang dipenuhi dokumen-dokumen takdir. Pangkas kenangan-kenangan tak pungkas, hanya sisakan anyelir berkuntum zikir. Sebab telah kau pahami, bahwa kulit kepalaku tersusun dari kata-kata, maka ia juga harus lapuk oleh kata-kata. Jadikanlah telepuk, jalinlah dari derai tangis yang mengambang di pelupuk. Saripati kecamuk, bebaskan dari sergapan remuk dan amuk.

Maka tumbangkan! hingga meratap dan meracap tak lagi kutahu bedanya. Agar yang hancur dari kepalaku bisa tumbuh di kemudian hari: kenangan-kenangan yang menyusun hari lahirmu. Kau bukan lagi perikop yang mampu menyebut dan menyebati keberadaanku, bukan lagi bintik merah sebab sengat ribuan ngengat yang mengecup kening alam mimpiku. Agar usia usailah: berhenti merongrong tubuh yang demikian nestapa tak dikenal musim-musim.

No comments:

Post a Comment